{"id":438,"date":"2007-11-02T21:00:48","date_gmt":"2007-11-02T13:00:48","guid":{"rendered":"http:\/\/yuhana.wordpress.com\/2007\/11\/02\/apa-untungnya-kuliah-di-luar-negri\/"},"modified":"2007-11-02T21:00:48","modified_gmt":"2007-11-02T13:00:48","slug":"apa-untungnya-kuliah-di-luar-negri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/2007\/11\/02\/apa-untungnya-kuliah-di-luar-negri\/","title":{"rendered":"Apa Untungnya Kuliah di Luar Negri"},"content":{"rendered":"<p>Sebenarnya bagaimana cara belajar waktu kita kuliah di negeri sendiri dengan di luar negeri sama saja. Bagaimanapun juga kita harus belajar dengan diri kita sendiri, melakukan eksplorasi sendiri dan juga memupuk kemampuan sendiri.<!--more--><\/p>\n<p>Kuliah yang diberikan oleh dosen adalah hanya sebagian kecil ilmu yang kita dapati, sebagian besar harus kita cari tahu dengan cara lain, membaca buku, browsing di internet, mencoba \/ praktek dan lain sebagainya. Tanpa melakukan hal itu pastilah kita hanya mendapatkan sedikit sekali dan segera lupa.<\/p>\n<p>Lalu apa bedanya kuliah di luar negeri dengan di dalam negeri? Yang jelas ada sisi plus minusnya. Jika memilih di luar negeri maka kita harus siap meninggalkan keluarga, orang tua, keponakan, teman-teman dan sahabat2 kita alias harus siap hidup sendiri, kecuali yang membawa serta keluarganya. Bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru atau yang lebih dikenal dengan istilah &#8220;culture shock!&#8221; adalah tantangan tersendiri. Masa terberat biasanya dialami di semester pertama dan kedua. Termasuk menyiasati keuangan, ada yang mendapat cukup beasiswa bahkan berlebih, ada juga yang kurang sehingga harus memutar otak untuk bisa mendapatkan tambahan. Apalagi bagi pegawai negeri ada kebijakan pemerintah pemotongan 50% gaji, harus disiasati juga. Bagaimana meninggalkan anak istri (bagi kepala keluarga) dengan gaji yang tinggal 50%. Banyak masalah yang perlu dipikirkan. Kalau masih bujangan, mungkin tidak terlalu bermasalah, tapi nggak juga, tergantung kebutuhan kita.<\/p>\n<p>Lalu apa yang kita dapati dengan besarnya pengorbanan yang kita lakukan? Akses jurnal yang gampang (gratis download jurnal2 IEEE misalnya, juga jurnal-jurnal yang lain), cepatnya koneksi internet, internet bisa didapati dimana-mana karena adanya WI-FI dan juga budaya penelitian termasuk dukungan yang sangat besar dari Profesor karena profesor sendiri berada di kampus pagi hingga malam, kadang lewat tengah malam masih ngampus adalah hal yang sepertinya jarang kita dapati di dalam negeri. Pengalaman yang jelas berbeda dan juga koneksi dengan internasional adalah harapan ketika kita memilih kuliah di luar negeri. Apalagi banyak beasiswa yang ditawarkan baik oleh pihak universitas maupun negara lain.<\/p>\n<p>Selain pengorbanan dan hal-hal yang kita dapat, yang harus dipikirkan lagi adalah masalah budaya. Ada yang terkontaminasi dengan budaya luar negeri, ada juga yang masih menjaga budaya dari negeri sendiri. Tidak semua budaya luar negeri kurang baik, banyak juga budaya yang baik. Begitupun dengan budaya kita. Yang pasti, bagi yang memilih kuliah di luar negeri harus bisa selektif, ambil budaya yang baik dan tinggalkan budaya yang kurang baik. Semoga ketika kembali ke negeri sendiri bisa menularkan budaya baik yang diperoleh selama belajar di luar negeri. Termasuk saya, semoga bisa mengambil manfaat dari pilihan ini. Aamien<\/p>\n<p>yanglagikangenbangetdengankeluarga<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebenarnya bagaimana cara belajar waktu kita kuliah di negeri sendiri dengan di luar negeri sama saja. Bagaimanapun juga kita harus belajar dengan diri kita sendiri, melakukan eksplorasi sendiri dan juga memupuk kemampuan sendiri.<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[61,4],"tags":[],"class_list":["post-438","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-budaya","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/438","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=438"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/438\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=438"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=438"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/yuhana\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=438"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}