{"id":6850,"date":"2016-07-20T16:12:23","date_gmt":"2016-07-20T16:12:23","guid":{"rendered":"http:\/\/dosenkapal.com\/?p=6850"},"modified":"2016-07-20T16:12:23","modified_gmt":"2016-07-20T16:12:23","slug":"kisah-balam-bin-bauroh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/2016\/07\/20\/kisah-balam-bin-bauroh\/","title":{"rendered":"Kisah Bal&#8217;am bin Bauroh"},"content":{"rendered":"<p>Sambil mendengarkan video yang saya dengarkan mengenai kisah bal&#8217;am bin bauroh, oleh K. H Jamaludin Ahmad mengenai ketentuan takdir Tuhan, monggo di simak dan dibaca ceritanya nggeh<\/p>\n<p>https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=hahwHENiu2g<\/p>\n<p>KISAH BAL&#8217;AM BIN BAURO YANG BERKEPALA ANJING<\/p>\n<p>Suatu hari Nabi Musa AS dan puluhan ribu orang Bani Israil singgah di Kan\u2019an, salah satu wilayah di Syam-Syiria. Melihat kedatangan mereka, segeralah warga Kan\u2019an mengadukan mereka kepada Bal\u2019am, seorang tokoh yang sangat disegani. \u201cOrang ini adalah Musa bin Imran yang memimpin Bani Israil. Dia datang untuk mengusir kami lalu menempati negeri kami padahal kami tidak memiliki tempat tinggal. Engkau adalah orang yang doanya makbul, maka doakanlah mereka dengan keburukan\u201d. Kata warga Kan\u2019an.<!--more--><\/p>\n<p>Mendengar itu justru Bal\u2019am marah. \u201cCelakalah kamu. Yang bersama Nabi \u0627\u0644\u0644\u0647 itu adalah para malaikat dan orang-orang yang beriman. Bagaimana mungkin aku mendoakan mereka dengan nasib buruk padahal aku mengetahui dari \u0627\u0644\u0644\u0647 apa yang aku ketahui \u201c. Katanya.<\/p>\n<p>Karena mereka terus membujuk, akhirnya Bal\u2019am terpengaruh juga. Maka Bal\u2019am pun mengendarai keledainya menuju gunung Husban, tempat tinggal Nabi Musa AS berkemah. Namun belum jauh berjalan, keledainya berhenti. Mungkin karena kelelahan, maka iapun turun dan beristirahat sejenak. Tak lama kemudian ia melanjutkan perjalanan. Tetapi belum jauh berjalan, keledainya berhenti lagi. Anehnya dengan izin \u0627\u0644\u0644\u0647 keledai itu dapat berbicara.<\/p>\n<p>\u201cCelakalah kamu wahai Bal\u2019am, hendak pergi ke mana kamu ?, apakah kamu tidak melihat para malaikat di depanku yang memalingkan wajahnya ?, apakah kamu hendak menemui Nabi \u0627\u0644\u0644\u0647 dan orang-orang mukmin untuk mendoakan dengan sesuatu yang buruk?\u201d kata keledai.<\/p>\n<p>Tetapi karena telah dikuasai hawa nafsu, Bal\u2019am tidak menghiraukan perkataan keladai tersebut, bahka ia semakin kuat memukul hewan tunggangan itu. Akhirnya dengan terpaksa keledai itu menuruti perintah tuannya, berjalan sampai di puncak gunung Husban.<\/p>\n<p>Sesampai di puncak gunung itu serta merta Bal\u2019am pun mendoakan sesuatu yang buruk untuk Nabi Musa AS dan kaumnya. Akan tetapi ketika ia memulai doanya, \u0627\u0644\u0644\u0647 SWT mengubah gerakan-gerakan lidahnya, sehingga yang keluar dari mulunya adalah doa yang sangat baik untuk Nabi Musa AS dan kaumnya, dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kaum Kan\u2019an.<\/p>\n<p>Mendengar hal itu kaum Kan\u2019an kaget . \u201cHai Bal\u2019am, apa yang kamu lakukan ?, kamu telah mendoakan dengan sesuatu yang baik kepada mereka dan mendoakan sesuatu yang buruk untuk kami ?\u201dkata mereka.<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya doa yang keluar dari mulutku tadi bukan karena kemauanku akan tetapi kekuasaan dan kehendak \u0627\u0644\u0644\u0647SWT yang sama sekali tidak aku sadari\u201d. Jawab Bal\u2019am. Kemudian Bal\u2019am berkata lagi kepada kaumnya,\u201dKalau begitu aku akan membuat tipu daya dan muslihat dikalangan Bani Israil\u201d.<\/p>\n<p>Maka dikumpulkanlah beberapa wanita cantik, mereka diberi pakaian yang indah dengan perhiasan dan wewangian. Dengan dibekali beberapa barang dagangan yang menarik, mereka dikirim ke perkemahan Nabi Musa AS.<\/p>\n<p>\u201cSuruh mereka menuruti keiinginan orang-orang yang ingin berzina, agar mereka semua celaka\u201d. Kata Bal\u2019am kepada kaumnya.<\/p>\n<p>Tak lama kemudian, para wanita cantik itu tiba di perkemahan Nabi Musa AS. Salah seorang diantara mereka adalah Kasbi binti Suar, berjalan di depan kemah Zamri bin Syalum. Maka kepala suku Syam\u2019un itupun terpesona hatinya lalu membawa Kasbi menghadap Nabi Mus AS.<\/p>\n<p>\u201cMungkin Tuan akan mengatakan bahwa wanita ini adalah haram bagiku, karena itu Tuan melarangku untuk mendekatinya\u201d. Kata Zamri.<\/p>\n<p>\u201cBenar, wanita ini diharamkan bagimu, jangan dekati dia\u201d. Jawab Nabi Musa AS.<br \/>\n\u201cDemi \u0627\u0644\u0644\u0647 , pada masalah yang satu ini aku tidak akan menta\u2019atimu\u201d. Kata Zamri. Segera setelah itu ia membawa wanita tersebut ke dalam kemahnya. Dan terjadilah apa yang diperkirakan oleh Bal\u2019am.<\/p>\n<p>Tak lama kemudian \u0627\u0644\u0644\u0647 SWT menurunkan wabah Tha\u2019un (kolera) di kalangan Bani Israil. Ketika penyakit itu mewabah, Fanhash bin Al-Aizar bin Harun, sahabat Nabi Musa AS sedang pergi. Saat kembali ke perkemahan dan mendengar mewabahnya penyakit Tha\u2019un tersebut, ia segera mengambil sebilah tombak lalu menyergap Zamri dan membawa keluar lelaki dan perempuan itu dari kemah.<\/p>\n<p>Sungguh ajaib, setelah itu penyakit Tha\u2019un yang menewaskan lebih dari 70.000 orang Bani Israil, segera hilang lenyap. Di dalam Al-Qur\u2019an, kisah tentang Bal\u2019am bin Wara\u2019 tersebut tercatat dalam Surah Al-A\u2019raf 175-177 sebagai pelajaran bagi umat. Tiga ayat itu dimaksudkan sebagai perumpamaan mengenai orang yang telah dianugerahi ilmu oleh \u0627\u0644\u0644\u0647 SWT tetapi tidak mengamalkannya dan sebaliknya malah menyimpang dari nikmat yang diberikan.<\/p>\n<p>Dan riwayatnya Bal&#8217;am bin Bauro inilah yang dikatakna MANUSIA BERKEPALA ANJING ITU, dan bersembunyi di gua-gua sampai kiamat.<\/p>\n<p>Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah agar orang \u2013 orang yang berilmu mau berhati-hati, takut kepada \u0627\u0644\u0644\u0647 dalam menggunakan ilmunya, dan mengamalkannya untuk mencapai ketinggian derajat, kemuliaan serta bermanfaat bagi orang lain bukan untuk merendahkan derajat kemanusiaan.<\/p>\n<p>Firman Allah:<br \/>\nRasul-rasul mereka berkata kepada mereka: &#8220;Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mu\u2019min bertawakkal. Mengapa Kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri&#8221;.<br \/>\n\u0633\u064f\u0648\u06e1\u0631\u064e\u0629\u064f \u0627\u0655\u0628\u0631\u0627\u0647\u06cc\u0645<\/p>\n<p>Sumber:\u00a0https:\/\/www.facebook.com\/koleksimindaabuya\/posts\/394883877273530<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sambil mendengarkan video yang saya dengarkan mengenai kisah bal&#8217;am bin bauroh, oleh K. H Jamaludin Ahmad mengenai ketentuan takdir Tuhan, monggo di simak dan dibaca ceritanya nggeh https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=hahwHENiu2g KISAH BAL&#8217;AM BIN BAURO YANG BERKEPALA ANJING Suatu hari Nabi Musa AS dan puluhan ribu orang Bani Israil singgah di Kan\u2019an, salah satu wilayah di Syam-Syiria. Melihat &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":104,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14,3],"tags":[141,142,143],"class_list":["post-6850","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-penting","category-blog","tag-balam","tag-ketentuan-takdir","tag-kisah-balam-bin-bauroh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6850","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/users\/104"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6850"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6850\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}