{"id":6590,"date":"2016-04-17T13:35:25","date_gmt":"2016-04-17T13:35:25","guid":{"rendered":"http:\/\/dosenkapal.com\/?p=6590"},"modified":"2016-04-17T13:35:25","modified_gmt":"2016-04-17T13:35:25","slug":"kisah-istri-solihah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/2016\/04\/17\/kisah-istri-solihah\/","title":{"rendered":"Kisah istri solihah"},"content":{"rendered":"<p>Siti Muthi\u2019ah, Wanita Pertama yang Masuk Surga<br \/>\nposted by hatra<\/p>\n<p>Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rosulullah menjawab:\u201d Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti\u2019ah\u201d.<\/p>\n<p>Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah einginann fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?<\/p>\n<p>Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti\u2019ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.<\/p>\n<p>Ketika tiba di rumah Muti\u2019ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, \u201cAssalamu\u2019alaikum\u2026!\u201d<\/p>\n<p>\u201cWa\u2019alaikumussalaam! Siapa di luar?\u201d terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.<\/p>\n<p>\u201cSaya Fatimah, Putri Rosulullah,\u201d sahut Fatimah kembali.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,\u201d terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.<\/p>\n<p>\u201cSendirian, Fatimah?\u201d tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti\u2019ah seraya membukakan pintu.<\/p>\n<p>\u201cAku ditemani Hasan,\u201d jawab Fatimah.<\/p>\n<p>\u201cAduh maaf ya,\u201d kata Muti\u2019ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi Hasan kan masih kecil?\u201d jelas Fatimah.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada auami saya,\u201d kata Mutiah dengan menyesal.<\/p>\n<p>Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.<\/p>\n<p>Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti\u2019ah, kali ini a ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti\u2019ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti\u2019ah bertanya:<\/p>\n<p>\u201cKau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.\u201d \u201cHa? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, \u201c dengan perasaan menyesal, Muti\u2019ah kai ini juga menolak.<\/p>\n<p>Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti\u2019ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.<\/p>\n<p>Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.<\/p>\n<p>Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.<\/p>\n<p>\u201cMaaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,\u201d kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.<\/p>\n<p>Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.<\/p>\n<p>\u201cSuamimu bekerja dimana?\u201d Tanya Fatimah<\/p>\n<p>\u201cDi ladang,\u201d jawab Muti\u2019ah.<\/p>\n<p>\u201cPengembala?\u201d Tanya Fatimah lagi.<\/p>\n<p>\u201cBukan. Bercocok tanam.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi, mengapa kau bawakan cambuk?\u201d<\/p>\n<p>\u201cOh, itu?\u201d sahut Mutiah denga tersenyu.\u201d Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApakah itu kehendak suamimu?\u201d Tanya Fatimah keheranan.<\/p>\n<p>\u201cOh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.\u201d<\/p>\n<p>Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.<\/p>\n<p>\u201cPantas kalau Muti\u2019ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,\u201d kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, \u201cDia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.\u201d<\/p>\n<p>tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.<\/p>\n<p>\u201cBuat apa benda ini Muthi\u2019ah?\u201d Siti Muthi\u2019ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. \u201cEngkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas\u201d<\/p>\n<p>sungguh mulia Siti Muthi\u2019ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.<\/p>\n<p>Semoga Bermanfaat&#8230;<\/p>\n<p>Sumber: https:\/\/mobile.facebook.com\/nisfize\/posts\/456126464418539?_rdr<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siti Muthi\u2019ah, Wanita Pertama yang Masuk Surga posted by hatra Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rosulullah menjawab:\u201d Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti\u2019ah\u201d. Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":104,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14,3],"tags":[],"class_list":["post-6590","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita-penting","category-blog"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6590","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/users\/104"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6590"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6590\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}