{"id":50333,"date":"2019-12-03T05:07:15","date_gmt":"2019-12-03T05:07:15","guid":{"rendered":"http:\/\/dosenkapal.com\/?p=50333"},"modified":"2019-12-03T05:07:15","modified_gmt":"2019-12-03T05:07:15","slug":"proses-pembangunan-kapal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/2019\/12\/03\/proses-pembangunan-kapal\/","title":{"rendered":"Proses pembangunan kapal"},"content":{"rendered":"<h2>Proses Pembangunan Kapal Secara Umum<\/h2>\n<p>Dalam membangun sebuah kapal dibutuhkan sebuah metode pembangunan kapal untuk meyelesaikan proses pembuatan kapal tersebut. Metode proses produksi kapal ini berkembang setiap saat. Perkembangan metode ini bertujuan untuk mempermudah dalam proses pengerjaan agar kapal dapat diselesaikan dengan waktu yang cepat. Sampai saat ini perkembangan metode pengerjaan kapal terdiri dari empat tahapan. Perkembangan ini berdasarkan teknologi yang digunakan dalam proses pengerjaan lambung dan <em>outfitting<\/em>.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium\" src=\"https:\/\/encrypted-tbn0.gstatic.com\/images?q=tbn%3AANd9GcRuJHxHoPrsmxO-oRgesvkq1ha5KAfxpRzhxlao9hVYC_KRPGZ4\" width=\"678\" height=\"452\" \/><\/p>\n<h3>Metode Konvensional<\/h3>\n<p>Metode ini memusatkan pekerjaan pada masing-masing sistem fungsional yang ada di kapal. Dengan kata lain metode ini memandang kapal sebagai sebuah sistem. Proses pengerjaan kapal dengan metode ini berjalan dengan sangat lamban. Karena perkejaan dilakukan satu persatu dan bertahap. Pertama lunas dipasang terlebih dulu, kemudian gading-gading dipasang dikulitnya. Bila badan kapal hampir selesai dirakit peerjaan <em>outfitting <\/em>dimulai. Pekerjaan <em>outfitting-<\/em>nya pun dipasang sistem demi sistem, seperti pemasangan ventilasi, sistem pipa, lisatrik, mesin, dll.<\/p>\n<p>Metode ini merupakan metode paling awal sehingga tingkat produktivitasnya pun masih sangat rendah. Mutu pekerjaan dengan metode ini masih sangat sangat rendah juga karena hampir seluruh pekerjaan dilakukan secara manual pada <em>building berth. <\/em>Dengan proses pekerjaan secara manual tersebut, maka kegagalan pada proses pekerjaan sangat sering terjadi. Akibatnya, penambahan jam lembur (<em>overtime) <\/em>tidak dapat dihindari.<\/p>\n<h3>Metode Blok Konvensonal (Hull Block Construction Method dan Pre Outfitting)<\/h3>\n<p>Metode ini dimulai dengan digunakannya teknologi pengelasan pada pembuatan kapal. Dengan metode ini, material kapal dibuat menjadi sebuah seksi-seksi seperti seksi geladak, seksi kulit dan lain-lain. Dari seksi-seksi ini kemudian dilas membentuk sebuah blok. Dari blok ini kemudian dirakit menjadi badan kapal. Pada metoe pengerjaan ini, pemasangan <em>outfitting <\/em>dikerjakan pada blok maupun badan kapal. Pemasangan <em>outfitting <\/em>ini disebut sebagai proses <em>pre- outfitting.<\/em><\/p>\n<p>Metode ini masih dikatakan sebagai metode tradisional karena <em>design<\/em>, <em>material definition <\/em>dan<\/p>\n<p><em>procurement <\/em>masih dikerjakan sistem demi sistem. Walaupun proses produksinya dikerjakan<\/p>\n<p>berdasarkan <em>block. <\/em>Karena adanya dua aspek yang bertentangan antara perencanaan dan pengerjaannya, maka pada perbaikan produktivitas masih sulit untuk dilakukan.<\/p>\n<h3>Metode Modern (<em>Full Outfitting Block System<\/em>)<\/h3>\n<p>Metode ini biasa disebut sebagai metode <em>zone\/area\/stage<\/em>. Perubahan teknologi dari konvensional menjadi modern dimulai pada tahap ini. Tahapan ini ditandai dengan <em>lane construction process <\/em>dan <em>zone outfitting <\/em>yang merupakan aplikasi <em>group teknologi <\/em>pada <em>hull construction <\/em>dan <em>outfitting work<\/em>. <em>Group teknologi <\/em>adalah metode analitis untuk secara sistematik menghasilkan produk dalam kelompok-kelompok yang mempunyai kesamaan dalam perencanaan maupun proses produksinya. Kebanyakan galangan-galangan di Eropa dan Jepang menggunakan metode ini.<\/p>\n<p>Pada metode ini galangan mengelompokkan proses produksi berdasarkan kesamaan proses produksi, sehingga pekerja lebih mudah dan cepat dalam melakukan pekerjaan di bengkel kerja. Dengan metode ini maka peningkatan produktivitas galangan dapat lebih mudah ditingkatkan. Dan pada pekerjaan <em>outfitting<\/em>-nya dilakukan dengan metode <em>zone outfitting<\/em>. Jika pada metode sebelumnya pekerjaan <em>outfitting <\/em>dikerjakan berdasarkan fungsinya, maka pada tahap ini pekerjaan <em>outfitting <\/em>dikerjakan berdasarkan <em>region\/zone<\/em>. Pengerjaan <em>outfitting <\/em>pada metode ini dibagi menjadi tiga proses, <em>on-unit, on-block<\/em>, dan <em>on-board <\/em>:<\/p>\n<p>a) <em>On-unit<\/em><\/p>\n<p>Metode <em>on-unit <\/em>ini dapat didefinisikan sebagai pemasangan perlengkapan <em>outfitting <\/em>yang dilakukan secara tersendiri dari struktur lambung.<\/p>\n<p>b) <em>On-block<\/em><\/p>\n<p>Metode ini mengerjakan pemasangan <em>outfitting <\/em>pada setiap structural sub-rakitan (<em>semi- block <\/em>atau <em>block<\/em>).<\/p>\n<p>c) <em>On-board<\/em><\/p>\n<p>Pada metode ini perakitan dan pemasangan perlengkapan <em>outfitting <\/em>dilakukan selama penegakan (<em>erection) <\/em>lambung an setelah peluncuran.<\/p>\n<p>Proses pembangunan <a href=\"http:\/\/dosenkapal.com\/2016\/09\/bisnis-proses-di-galangan-kapal\/\">kapal<\/a> (<em>shipbuilding process<\/em>) adalah suatu proses yang sangat kompleks yang dimulai dari perumusan permintaan pemesan kapal (spesifikasi teknis kapal) hingga penyerahan kapal oleh pihak galangan kepada pemesan kapal. Oleh karena itu galangan harus mampu menterjemahkan apa yang diinginkan pemesan kapal [Satriya, 2002]. Tahapan- tahapan dalam proses pembangunan kapal baru dapat diuraikan secara umum sebagai berikut [Storch et al, 1995] :<\/p>\n<p>\uf0b7 Tahap pertama dalam proses pembangunan kapal adalah <em>development of owner\u2019s requirements <\/em>yang memiliki arti perumusan persyaratan produk (kapal) oleh pemesan kapal, seperti tipe kapal, daerah pelayaran yang akan dilalui, jenis muatan, jumlah muatan yang akan dibawa, kecepatan yang diinginkan dan sebagainya. Hasil akhir yang diperoleh dari tahap ini harus mencerminkan apa yang menjadi permintaan pemesan kapal dan bagaimana kapal tersebut diperuntukkan.<\/p>\n<p>\uf0b7 Tahap kedua dalam proses pembangunan kapal adalah <em>preliminary\/concept design <\/em>yang memiliki arti penentuan awal karakteristik kapal. Dalam hal ini, penyusunan <em>preliminary\/concept design <\/em>dapat dikerjakan staf pemesan kapal, <em>design agent <\/em>yang dikontrak pemesan kapal, maupun oleh staf dari satu atau lebih galangan kapal. Tahap ini merupakan gambaran umum mengenai kapal yang akan dibangun. Hasil dari tahap ini adalah ukuran utama kapal, bentuk lambung, rencana umum, perancanaan permesinan, kapasitas ruang muat, perlengkapan kapal, dll.<\/p>\n<p>\uf0b7 Tahap ketiga dalam proses pembangunan kapal adalah <em>contract design <\/em>yang memiliki arti pembangunan kontrak desain. Kontrak desain merupakan informasi lebih detail dari hasil pengembangan <em>preliminary<\/em>\/<em>concept design<\/em>. Informasi yang terdapat dalam kontrak desain harus cukup untuk digunakan dalam estimasi biaya dan waktu yang diperlukan dalam proses pembangunan kapal. Sama dengan tahap <em>preliminary\/concept design, <\/em>pekerjaan ini dapat dilakukan oleh staf pemesan kapal, <em>design agent <\/em>yang dikontrak pemesean kapal, maupun oleh tenaga kerja galangan kapal.<\/p>\n<p>\uf0b7 Tahap keempat dalam proses pembangunan kapal adalah <em>bidding\/contracting <\/em>yang memiliki arti penandatanganan kontrak sesuai dengan desain yang disetujui. Penandatangan kontrak tersebut juga dilakukan setelah estimasi biaya dan waktu didapat, karena mahalnya biaya sebuah bangunan kapal baru proses penandatanganan kontrak biasanya berlangsung sangat lama dan kompleks. Hal terpenting dalam penetuan galangan kapal yaitu: biaya, tanggal serah terima (pengiriman) kapal, dan kinerja galangan kapal tersebut.<\/p>\n<p>\uf0b7 Tahap kelima dalam proses pembangunan kapal adalah <em>detail design and planning <\/em>yang memiliki arti pembuatan desain, perencanaan, dan penjadwalan yang lebih detail. Hal ini dikarenakan proses pembangunan kapal melibatkan banyak komponen dan bahan baku yang harus dibeli, dibuat menjadi bagian-bagian kapal dari bahan baku yang tersedia, dan komponen serta bagian-bagian kapal tersebut dirakit.<\/p>\n<p>\uf0b7 Tahap keenam dalam proses pembangunan kapal adalah <em>construction <\/em>yang memiliki arti proses produksi <a href=\"http:\/\/hima-tl.ppns.ac.id \u203a proses-pembuatan-kapal\" data-wplink-url-error=\"true\">kapal<\/a> tersebut. Proses pelaksanaan produksi yang sebenarnya dilakukan berdasarkan informasi-informasi detail yang didapat dari tahap-tahap sebelumnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Proses Pembangunan Kapal Secara Umum Dalam membangun sebuah kapal dibutuhkan sebuah metode pembangunan kapal untuk meyelesaikan proses pembuatan kapal tersebut. Metode proses produksi kapal ini berkembang setiap saat. Perkembangan metode ini bertujuan untuk mempermudah dalam proses pengerjaan agar kapal dapat diselesaikan dengan waktu yang cepat. Sampai saat ini perkembangan metode pengerjaan kapal terdiri dari empat &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":104,"featured_media":50336,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-50333","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-blog"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50333","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/users\/104"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50333"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50333\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50333"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50333"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/notes.its.ac.id\/sholikhan_\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50333"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}