Sebuah catatan: Apa ukuran kinerja kita sesungguhnya?
Pak Arif Wibowo baru saja membawa Garuda menjadi maskapai terbaik di dunia (lihat https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/04/11/garuda-indonesia-dinobatkan-menjadi-maskapai-terbaik-dunia ), tapi toh dicopot juga posisinya sebagai Dirut Garuda.
Padahal masih jelas dalam ingatan kita, beberapa saat yang lalu, Pak Dwi Sutjipto yang juga membawa Pertamina untuk kali pertama, memperoleh laba bersih melebihi Petronas, juga dilengserkan dari jabatan Dirut Pertamina. Bahkan waktu itu belum jelas siapa penggantinya, langsung diberhentikan begitu saja.
Aneh? Tidak juga, pemerintah, khususnya Kementerian BUMN pasti punya sejuta alasan untuk membuat keputusan kontroversial seperti itu. Jadi tidak perlu gumunan, apalagi jaman sekarang, banyak keputusan yang dibuat berdasarkan pembenaran bukan kebenaran, dan itu nyaris dalam semua aspek pembangunan kita. Jadi tidak perlu diperdebatkan…
Hanya saja, implikasi dari logika yang dibalik seperti di atas bagi masyarakat akademis tentunya menyedihkan. Artinya secara nyata, prestasi bukan menjadi sebuah ukuran untuk mengukur kinerja seseorang. Indikator yang digunakan sebagai bagian dari kontrak kinerja seorang pejabat, seolah hanya sekedar basa-basi yang tidak berpengaruh sama sekali terhadap hasil evaluasi tentang sejauh mana seorang pimpinan berhasil menjalankan amanah tugas dan jabatannya dengan baik.
Dari segi manajemen organisasi, hal ini jelas tidak sehat, karena ada ukuran kinerja “hidden” sehingga seorang eksekutif tidak bisa secara nyaman dan fokus bekerja dengan indikator kinerja yang jadi bagian dari kontraknya. Dalam jangka panjang, hal ini akan menjadi kontra produktif, terutama apabila organisasi pemerintah dibangun dengan sistem kinerja yang tidak akuntabel seperti itu.
Bukan karena kedua tokoh yang saya sebut di atas adalah alumni ITS, dan karena itu saya yang notabene Rektornya ikut membelanya. Tapi ini adalah hal yang seharusnya tidak terjadi di abad sekarang ketika semuanya sudah seharusnya transparan dan akuntabel. Kalau hal ini dibiarkan terjadi dan berulang, kita artinya sama-sama melakukan pembiaran terhadap ara kebijakan negara kita yang mengarah kepada situasi yang tidak sehat dan cenderung hanya terjadi semata atas kepentingan sesaat jangka pendek.
Sayangnya kehidupan nyata dalam bernegara ternyata tidak seperti yang tampak dalam buku teks akademik di lingkungan kampus. Jadi kita lihat saja bagaimana selanjutnya, sebab hal yang kelihatan kecil ini apabila dibiarkan akan berpotensi menjadi penyebab runtuhnya sebuah tananan berbangsa yang sehat.
JH (13/4/2017)