Dwi Sutjipto: sebuah Catatan
Pak Dwi Soetjipto, sangat akrab di telinga Civitas Academica ITS. Selain sebagai Ketua Umum IKAlumni ITS, beliau juga adalah salah satu alumnus terbaik yang dihasilkan ITS. Kami, sebagai bagian dari Keluarga Besar ITS selalu bangsa atas kiprahnya sebagai seorang professional. Beliau adalah tokoh panutan yang mampu menggabungkan visi dengan misi perusahaan secara luar biasa.
Dikatakan luar biasa, karena boleh jadi tidak ada seorangpun Direktur Utama BUMN di Indonesia sampai saat ini yang mampu membawa marwah perusahaan BUMN tidak hanya terbatas pada level nasional, namun juga sampai level internasional.
***
Nama Dwi Soetjipto melejit ketika beliau menjabat sebagai Dirut PT Semen Gresik karena mampu menggenjot kapasitas produksinya menjadi 26 juta ton per tahun sehingga menaikkan pendapatan perusahaan secara dramatis. Prestasinya ini menjadikan PT Semen Gresik sejajar dengan perusahaan BUMN raksasa lainnya saat itu, yaitu Pertamina dan PLN. Tidak hanya itu, kapasitas produksi semen yang dihasilkannya ini melampaui kapasitas produksi Raja Semen Asia Tenggara dari Thailand, Siam Cement.
Kiprahnya berlanjut ketika beliau berhasil menyatukan industri semen nasional, yaitu Semen Padang, Semen Tonasa, dan Semen Gresik, menjadi perusahaan multinational BUMN pertama di Indonesia. Dibawah panji PT Semen Indonesia, perusahaan induk usaha semen nasional ini menasbihkan diri sebagai pabrik semen dengan operasi terbesar di Asia Tenggara. Bahkan melalui tangannya, Semen Indonesia memperluas jangkauan operasi dengan mengakusisi pabrik semen Thang Long n di Hanoi, Vietnam. Tak ayal, langkahnya itu bagi pelaku industri semen di Indonesia, beliau dijuluki sebagai Bapak Pemersatu Semen Indonesia. Di Vietnam sendiri, beliau bahkan diberi nama Vietnam sebagai bentuk penghormatan, Vu Van Qui.
Makanya ketika tahun 2014, beliau di pilih Jokowi untuk mengkomandani Pertamina, dengan tugas utama memberantas mafia migas, orang tidak heran walaupun beliau berasal dari dunia bisnis yang berbeda. Begitu menyandang jabatan Dirut Pertamina, tugas Presiden dijawab dengan pembubaran Petral anak perusahaan yang dianggap tidak efisien. Berbagai gerakan efisiensi dilakukan, tanpa mengorbankan harus staf
karyawan Pertamina, berhasil dilakukan. Belum setahun setelah dilantik, Oktober 2015, Pertamina dianugerahi sebagai perusahaan dengan predikat the Best Downstream Service & Solutions Company dan Pak Dwi Soetjipto dianugerahi sebagai Asia Best CEO dalam Oil and Gas Awards 2015 oleh majalah internasional World Finance.
Yang juga membanggakan kita semua adalah, dibawah kepemimpinannya, tahun 2016 Pertamina mampu meraih laba bersih yang lebih tinggi dari Petronas, perusahaan migas Malaysia yang selama ini selalu lebih superior. Keberhasilan ini, bagi sebagian bangsa kita seolah mengobati kerinduan atas keunggulan bangsa kita atas Negara jiran yang selama ini hampir selalu lebih unggul dalam berbagai bidang pertumbuhan bangsa. Setidaknya mereka tidak akan lagi memandang kita sebelah mata seolah kita hanya mampu menghasilkan tenaga kerja sekelas rumah tangga belaka. Ya, Dwi Soetjipto telah berhasil menyetarakan marwah bangsa Indonesia secara bermartabat. Beliaulah eksekutif pertama sepanjang sejarah yang membawa BUMN Indonesia menjadi perusahaan multinational dengan capaian mendunia.
Berbagai penghargaan telah beliau raih, baik nasional maupun international, termasuk penghargaan pemerintah yaitu Satya Lencana Pembangunan di bidang pembinaan koperasi usaha kecil dan menengah (UKM). Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG) saat ini tercatat menjadi koperasi terbesar kedua di Indonesia dengan jumlah anggota 6.000 orang, dan mencatat total penjualan Rp. 1,4 triliun.
Dengan segudang prestasi atas professionalisme beliau, serta juga di saat Pertamina menunjukkan trend positif, beliau diberhentikan dari jabatannya. Lho?
Komisaris Pertamina dalam wawancara di sebuah TV swasta, ketika ditanya mengapa mencabut Dirut yang telah menghasilkan banyak prestasi dan dalam kondisi perusahaan yang sedang naik, dengan ringan menjawab:”Jangan lihat sekarang, lihat ke depan… Pertamina akan menghadapi kondisi yang lebih kompleks!”
Ironis, jika seseorang yang punya kapabilitas tinggi dan itu telah dibuktikan dengan unjuk kinerja yang baik, kemudian dicopot begitu saja, karena dianggap tidak akan mampu menghadap persoalan “masa depan Pertamina yang lebih kompleks” tanpa jelas siapa yang lebih pantas menggantinya… Dimana logika sehatnya ya? Nampaknya para penguasa kita sedang bermain dadu…
Mudah2an Pak Dwi tidak direkrut Petronas saja….***
(JH dari berbagai sumber)
7/2/2017