Tadabur alam

JOGJA

Kali ini saya berada di Jogja, kota budaya yang selalu menjadi jujugan para turis nusantara. Seingat saya, hampir semua sekolah di Jawa pasti melakukan ekskursi atau wisata ke Jogja, seolah ‘wajib’ hukumnya. Bahkan bukan hanya sekolah, karyawan kantor juga begitu, baik negeri maupun swasta. Jogja menjadi representasi obyek pembelajaran wisata bagi anak-anak sekolah, setelah kota tempat mereka tinggal. Setiap hari, bus antar kota dari berbagai jenis dan ukuran datang dan pergi silih berganti.

Saya ingat, pertama kali saya menginjak kaki di kota Jogja adalah ketika saya masih di kelas 1 SMP sekitar tahun 1974. Saat pagi, saya takjub melihat ratusan anak-anak mengayuh sepeda pancal menuju sekolah, dan itu memenuhi hampir semua bagian jalan raya.  Ketika itu, mobil apalagi bus tidak sebanyak sekarang. Nikmat rasanya menyaksikan rombongan bersepeda yang makin marak oleh bayangan mereka sendiri di aspal jalan oleh sinar matahari pagi yang mulai menyembul. Para siswinya melaju dengan rambut-rambut dikepang rapi teruntai, baju seragam putih-putih.. Wajah-wajah ceria dan segar, sambil mengayuh mereka bercandaria…lepas.  Semua itu dengan jelas tersimpan spesial dalam memori masa kecil saya. Memori tentang Jogja… 

Sayang, pemandangan indah itu kini sirna terganti oleh “uyel-uyelan” sepeda motor, mobil dan bus yang seolah berlomba mengeluarkan kepulan asap knalpotnya masing-masing…

Minggu pagi ini, saya dan istri berencana mengunjungi Pasar Beringhardjo. Pasar tradisional yang legendaris itu. Saya tidak tahu, kapan saya menginjakkan kaki terakhir kali di pasar itu. Sepertinya, sejak pertama kali saya mengunjunginya lebih dari 43 tahun lalu, hampir tidak pernah lagi saya ke sana. Padahal sudah tidak terhitung berapa puluh kali saya bermuhibah ke Kota Jogja. 

Oya, cerita soal ke pasar, bagi seorang suami, atau mungkin setidaknya saya pribadi, menemani istri ke pasar atau tempat belanja butuh ekstra kesabaran plus energi pengertian yang “luas”. Sebab kalau tidak, kita akan tersiksa sendiri mengikuti aktivitas istri (baca: wanitašŸ™‚) keluar masuk kios, melihat dan menaksir barang yang akan dibeli, menawar, lalu beralih ke kios lain, mencoba barang yang lain, menaksir dan menawar…. lalu eh, tidak jadi lagi. Setelah itu, kembali ke kios sebelumnya, untuk menawar kembali barang yang tadi. Jadi beli barang itu, selalu ada proses “bench marking” yang kalau diikuti sang suami tanpa persiapan mental, akan sangat melelahkan…he..hee.

Karena itulah, khusus untuk pagi itu, saya sudah menyiapkan mental – lahir dan bathin – untuk menjadi suami yang baik dan penuh pengertian.. (hmmm, *twink*).

***

Ketika kami tiba di Pasar Beringhardjo, suasana masih lengang, lumayan segar dan menyenangkan karena relatif masih pagi. Para pedagang, terutama di emperan mulai beres-beres memantaskan barang-barang dagangannya agar menarik pembeli. Saya pandangi satu-satu para pedagang yang rata-rata sudah sepuh. Entah sudah berapa puluh tahun mereka mengabdikan  pada profesinya ini. Kesetiaan, keuletan atau mungkin juga, tidak pernah berpikir untuk mencari alternatif usaha lain, membuat itulah satu-satunya pilihan hidup mereka untuk mengais rejeki. 

Kalau dipikir-pikir, bisakah anak-anak muda sekarang seulet dan sepatuh mereka yang sepuh itu dalam menjalankan profesinya ya? Sungguh mengagumkan, belum lagi jika melihat tumpukan jualan baju konveksi yang didagangkannya setiap hari, audzubillah banyaknya. Dengan jumlah pedagang pesaing lainnya yang juga banyak di kanan kiri dan atasnya..(maklum gedung pasar Beringhardjo bertingkat), berapa banyakkah mereka mampu menjualnya setiap hari di tengah persaingan yang demikian ketat?..

MasyaAllah, sungguh Engkau lah yang secara adil telah menetapkan rejeki atas mereka masing-masing dan hal itu tidak pernah tertukar! Sesungguhnya Allah telah menciptakan kecukupan bagi mereka semua, asal saja mereka mau berikhitiar menyongsong rejekinya.

***

Tak terasa, sudah sekitar 1,5 jam kami berada di pasar. Lutut saya sudah mulai bergetar lelah. Kayaknya laki-laki tidak sekuat wanita untuk berlama-lama di dalam pasar. Walaupun demikian, emosi saya masih terkendali, sebab lha sudah diniatkan…sabaar. He..heee

Daripada bengong, saya mulai ikut melihat-lihat baju di lantai atas yang terdiri dari kios-kios yang lebih “modern”. Just for killing the time, sekedar mengisi waktu. Kebetulan juga beberapa baju koko saya sudah mulai lusuh sehingga layak untuk diganti. Saya mulai mengunjungi salah satu kios disana, milih-milih yang pas untuk dipakai pengajian atau shalat Jumat. Dalam waktu singkat, beberapa potong sudah saya pilih, dan itu tentunya setelah saya tanyakan harganya kepada penjaga disitu. Saya langsung membayar pada kasir. Dia lalu menulis item barang yang saya pilih beserta harganya dan menyerahkan bon total harga yang harus saya bayar. 

Saya coba periksa, sok teliti, dan lagipula sesuai dengan anjuran pemerintah untuk hati-hati sebelum membeliā˜ŗļø. Sekilas dilihat, saya mengernyitkan alis, lantas bertanya “Lho Mbak, dua item yang ini kok harganya beda dengan yang  ditawarkan ke saya tadi. Barang yang satu ini bedanya 55 ribu, dan barang yang kedua 15 ribu. Lha kok jadi lebih mahal?”

“Oh mereka pegawai baru, belum hapal harga” jawabnya datar seolah tidak peduli dengan ketidaknyamanan saya. Duh, ini bukan soal jumlah uang, tapi bisnis modelnya kok begini ya. Boleh jadi bagi pedagang, saya tidak lebih dari pembeli yang hanya sekali datang dan kemudian pulang menghilang tak kembali lagi. Sehingga segala macam teori bisnis tentang hubungan pelanggan, pelayanan prima atau teori dagang apapun tidak berlaku disini… Lha kan masih ada pembeli baru lain yang akan datang…

Kepalang basah sudah capek-capek milih dan nyoba, akhirnya saya bayar juga belanjaannya walaupun dengan hati sedikit dongkol. 

Istri saya ternyata sudah selesai belanjanya, jadi kami segera keluar pasar menerobos desakan orang-orang yang sudah sangat padat. Saya berhasil keluar dari kerumunan dan kembali menghirup udara Malioboro yang sudah mulai terik.

Rasa kesal saya alhamdulillah terobati ketika lalu melihat sederetan andong parkir di sepanjang jalan Malioboro. Ah, dalam keadaan sumpek, kadang kita perlu menghibur diri dengan mengulang apa yang menjadi kesenangan masa kecil, naik andong keliling kota. Dukdikdakdikdukdikdakdikduk suara spatu kuda….

Legaaa…

JH (26/2/2017)

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).Ā  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category ā€œAngka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)ā€ serta sekaligus termasuk ā€œ72 Tokoh Berpengaruh 2017ā€ versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *