Singapore (bagian 3)
Tibalah kini perjalanan pulang kembali ke tanah air dengan pesawat milik bangsa, Garuda. Seperti biasa, begitu take off, saya akan menonton film dalam pesawat sebagai ‘pengantar tidur’. Film yang saya pilih kebetulan berjudul “RACE”, mengangkat kisah seorang pelari berkulit hitam Amerika. Biasanya, hanya beberapa menit saya menonton, sisanya bablas ketiduran. Nyatanya, kali ini saya malah terus nonton hingga akhir. Film yang diambil dari kisah nyata ini sangat inspiratif dan sayang untuk ditinggal tidur…
Jesse, demikian nama panggilannya. Saat ini, tidak semua orang mengenal nama yang pernah mengukir sejarah dunia. Padahal ini nama legendaris yang telah mampu menjungkirbalikkan sebuah hegemoni atau dominasi kekuasaan yang demikian besar sehingga seolah tidak ada kekuatan lain yang mampu menggoyahkannya. Secara fenomenal ia seolah atau bahkan memang dilahirkan Allah SWT ke dunia untuk memberi pelajaran kemanusiaan pada makhluk hidup. He was born to be a hero.
James Cleveland Owens, atau yang kemudian dikenal dengan nama singkatan Jesse (JC) oleh gurunya akibat kesulitan mengeja namanya saat masa sekolahnya, dilahirkan tanggal 12 September 1913 di Alabama, USA. Dia dilahirkan sebagai keturunan kelas buruh berkulit hitam di tengah masyarakat yang masih kental dengan perbudakan dan diskriminasi. Dalam kondisi yang sulit seperti itu, dia tumbuh menjadi atlet atletik berbakat sehingga kemudian ia direkrut menjadi mahasiswa University of Ohio berkat jasa pelatih atletik di universitas itu, yaitu Larry Synder.
Kolaborasi keduanya menghasilkan prestasi atletik yang luar biasa sehingga pada puncaknya, Jesse sebagai atlit yang mewakili Amerika Serikat dalam Olimpiade Berlin tahun 1936 berhasil menggagalkan ambisi Hitler untuk menahbiskan superioritas bangsa Arya, yang direpresentasikan sebagai bangsa ras kulit putih, mata biru dan berambut pirang. Segala upaya rekayasa yang telah dilakukan Hitler untuk ‘membuktikan’ dominasi bangsa Arya dan menjadikan momen Olimpiade di Berlin sebagai media untuk propaganda, ternyata dipermalukan ‘hanya’ oleh seorang budak hitam yang bahkan di Amerika sendiri pun saat itu, selalu direndahkan dan dipandang sebelah mata. Secara spektakuler, dia meraih 4 medali emas, dan merupakan raihan medali emas terbanyak saat itu, melalui lari sprint 100 m, 200m, lompat jauh dan estafet 4 x 100 m! Suatu capaian yang tidak mampu dicapai oleh ras Arya atau bangsa kulit putih manapun yang digembar-gemborkan oleh Hitler sebagai bangsa yang uber alles atau di atas segalanya.
Kepongahan manusia, siapapun dia, apalagi dalam posisi sebagai penguasa, yang merasa unggul karena keturunan, kekayaan, jabatan maupun kekuasaannya sehingga bertindak sewenang-wenang, tidak akan pernah mampu melawan apa yang sudah menjadi hukum Allah atau sunatullah. Segala bentuk rekayasa yang telah dilakukan Hitler, untuk memastikan ‘kemenangan’ diri dan golongannya, dengan memanfaatkan seluruh kekuasaan yang dimilikinya secara zalim, nyatanya tidak berdaya meruntuhkan kekuasaan absolut yang dimilikNYA. Allah mempermalukan ambisi kekuasaan seorang penguasa yang lupa daratan, sehingga merasa paling berkuasa sak dunia, ‘hanya’ dengan menggunakan simbol seorang keturunan budak yang dianggap hina saat itu. Allah ingin menunjukkan siapa sesungguhnya penguasa bumi dan langit sejatinya.
Jesse, berhasil melakukan tugasNYA dengan baik. Iya berlari dan berlari sepanjang hidupnya dan mampu merubah dunia. Dia memang tidak peduli politik, bahkan ketika pulang kembali ke USA pun, dia tidak dianggap oleh Presiden Amerika saat itu, Franklin D Roosevelt. Dia tetap sebagai warga kelas dua yang harus menerima kenyataan untuk selalu masuk dari pintu yang berbeda dengan kulit putih Amerika walaupun statusnya sebagai pahlawan yang dapat “mengalahkan” penguasa dunia sekelas Hitler. Dia terus berlari dan berlari. Larinya memberi pembelajaran pada penghuni bumi tentang makna kemanusiaan. Bahwa semua manusia adalah setara dan sama di mataNYA kecuali hanya mereka yang bertaqwa. Jesse meninggal dunia tahun 1980 dan hanya setelah itu Pemerintah USA baru secara resmi memberi penghargaan layaknya sebagai pahlawan bangsa. Jesse benar-benar seorang pahlawan kemanusiaan.
Tak terasa kalau mata saya mulai membasah. Sungguh seharusnya kita semua, manusia, harus belajar dari pengalaman sejarah…
TAMAT
JH (25 Feb 2017)