Saat Menjadi Rektor

Singapore (bagian 1)

Awalnya saya tiba Rabu pagi di Singapore adalah untuk menghadiri penganugerahan gelar Juara kepada beberapa mahasiswa ITS yang berhasil merebut kompetisi karya tulis teknologi inovatif yang diadakan disana. Ini kali kedua secara berturut-turut mahasiswa ITS merebut Juara mengalahkan peserta lomba, mahasiswa dari Singapura dan beberapa negara lainnya. Luar biasa! Saya akan ceritakan soal penghargaan ini dalam tulisan besok pagi, sebab yang saya akan tulis kali ini adalah hal yang lain. 

Karena acara penganugerahan juara oleh Menterii Pendidikan Singapura berlangsung Kamis pagi, maka saya harus datang sehari sebelumnya agar bisa hadir tepat waktu. Saya ditemani oleh Kepala Departemen Transportasi Laut, Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Dr. Tri Achmadi, yang juga hadir, karena kebetulan dua Group mahasiswa ITS yang mendapat penghargaan sebagian besar adalah mahasiswa Departemen Transportasi Laut.

Kami mendarat di Changi sekitar jam 11 waktu setempat, sebelumya Pak Tri sempat menawari saya untuk mengunjungi Sembawang Shipyard, perusahaan reparasi dan upgrade kapal kelas dunia yang bisa merubah dan memperbaharui berbagai jenis kapal yang berasal dari seluruh belahan bumi. Karena saya juga tidak punya acara lain, langsung saja saya mengiyakan. Daripada nganggur, lebih baik menggunakan waktu saya untuk sesuatu yang bermanfaat.

Kami dijemput dan diantar menuju lokasi perusahaan yang berada di sebelah utara Pulau Singapura. Sekitar 40 menit naik mobil. Saat kami tiba, Mr. Muh Sukor, Ast Manager Komersial sudah menanti di depan pintu lobby perusahaan. Sambutannya sangat hangat, terutama kepada Pak Tri. Saya cuma melirik sekilas, sambil menduga berapa lama mereka telah berkenalan sehingga nampak sedemikian akrabnya. Beliau mempersilakan kami masuk ke lobby lantas meminta kami untuk menyimpan tas bawaan di kantornya sementara. Rupanya dia sudah menyiapkan kendaraan lain untuk mengajak kami makan siang di Resto Yatch Club milik perusahaan.

Dalam perjalanan, Mr. Sukor lalu berkata kepada saya dalam bahasa Inggris, yang saya terjemahkan bebas adalah sebagai berikut:”Pak Rektor, tahukah Bapak kalau Pak Tri adalah asset yang luar biasa, karena dia telah berhasil melakukan terobosan teknologi yang belum pernah dilakukan oleh negara manapun di dunia. Dan itu sudah diimplementasikan disini”.

Wah, masa iya. Saya agak ragu apa maksudnya. Kemudian saya baru tahu bahwa Pak Tri adalah perancang konversi kapal penumpang yang diubah menjadi menjadi kapal 3 in 1. Maksudnya, kapal penumpang diubah menjadi kapal angkut kontainer, kendaraan bermotor dan kapal penumpang sekaligus.

Karena sudah didahului, Pak Tri lalu bercerita bahwa sekitar tahun 2005, PT Pelni mengalami penurunan pendapatan yang sangat tajam dari kapal2 penumpangnya yang diimport dari Jerman itu, karena tidak mampu bersaing mendapat penumpang akibat rendahnya ongkos pesawat terbang. Beralihnya penumpang ini menyebabkan pendapatan  PT Pelni mengalami titik nadir karena biaya operasionalnya yang tetap, sementara jumlah penumpang turun drastis. Akibatnya jika hal ini dibiarkan, perusahaan bisa bangkrut karena tidak mampu menutup neraca pendapatan yang negatif. Menyikapi kondisi ini, timbul idea untuk mengkonversi kapal penumpangnya menjadi  kapal 3 in 1. Tentu saja idea nyeleneh ini tidak mudah diimplementasi, karena karakteristik kapal penumpang sangat berbeda dengan kapal angkut kontainer maupun kendaraan.

Pak Tri dan tim yang diminta PT Pelni untuk merancang perubahan ini kemudian melakukan proses rekayasa ulang struktur dan desain kapalnya. Rencana ada 2 kapal yang akan dirubah, yaitu Kapal Dobonsolo dan Kapan Ciremai.

Ketika rancangan sudah selesai dan mendapat persetujuan standar strukturnya oleh BKI, lalu PT Pelni meminta Sembawang Shipyard untuk melakukan perubahan konstruksi secara total itu. Masalahnya, perusahaan ini adalah bukan perusahaan yang mau sembarangan menerima order, mereka harus yakin kalau semua desain rancangan itu benar-benar sesuai dengan standar peraturan Internasional dan juga aman. Standar keamanan mereka sangat tinggi yaitu sesuai dengan standar yang ditetapkan IMO. Karena itu setiap bagian mereka periksa agar yakin bahwa semua OK. Bagi mereka, reputasi menjadi hal utama yang harus dijaga.  Apabila kemudian terjadi kecelakaan saat dioperasikan, misalnya patah body kapalnya akibat salah menghitung beban, maka seketika tidak hanya reputasi mereka yang merosot tapi juga saham mereka sebagai perusahaan publik akan hancur.

Masalah lain adalah, belum pernah ada sebelumnya perusahaan pelayaran di dunia yang mengubah kapal penumpang menjadi kapal 3 in 1. Karena itu, untuk meyakinkan kalau desain Tim ITS ini benar, mereka mengundang second opinion dari ahli beberapa negara, termasuk dari negara pembuatnya, yaitu Jerman. Selain itu, ada ahli desain kapal dari Inggris, Skandinavia dan dari Singapura sendiri. Awalnya semua ahli yang diundang mengatakan tidak layak, sebab mereka tidak mau menanggung resiko atas perbedaan karakteristik kapal sebelum dan sesudah dirubah. Namun Pak Tri dan Tim berusaha meyakinkan mereka dengan membeberkan hasil hitungan maupun dasar desain yang memenuhi dari 2 standar struktur dan keselamatan internasional yang berlaku.

Diperlukan waktu satu tahun penuh bagi Tim Pak Tri untuk menghadapi bak “sidang ujian doktor” ini dengan para tim ahli yang dihadirkan perusahaan mereka sampai akhirnya mendapat approval. Tidak terhitung berapa kali ia harus bolak-balik Surabaya – Singapura, sehingga saking seringnya, pada akhirnya Pak Tri sangat dikenal baik disana.

Perubahan kapal pertama, yaitu kapal Dobonsolo, memerlukan waktu 6 bulan penuh untuk merubahnya. Sedangkan kapal kedua memerlukan waktu 3 bulan saja, karena mereka sudah pengalaman merombak kapal pertama. Saat ini kapal Ciremai dan Kapal Dobonsolo sudah kurang lebih 5 tahun beroperasi di perairan Indonesia sejak dikonversi, dengan aman dan lancar. Perubahan ini sekaligus membuat pendapatan setiap kapal naik tajam hingga 500%.

Saya jadi ikut bangga dan kagum juga atas keberanian ‘bonek’ ITS Surabaya ini melakukan terobosan teknologi atau inovasi terhadap sesuatu yang belum pernah dilakukan di dunia sebelumnya. Karena itu, sebagai rasa penghargaan, saya khusus menulis untuk menceritakan hal yang dihargai sangat tinggi di Singapura tapi belum diketahui di negaranya sendiri. Lebih jauh sebenarnya, bukan hanya Pak Tri yang telah melakukan inovasi teknologi seperti ini, dalam bidang lainnya, banyak juga ternyata technology breakthrough yang telah dilakukan teman-teman dosen ITS tapi belum banyak diketahui orang. Bagi saya, kemampuan Pak Tri meyakinkan para engineer asing sehingga perusahan dunia sekelas Sembawang Shipyard mau mengekeskusi desainnya sungguh luar biasa. Saya yakin ini tidak sembarangan, sebab ketika kami dibawa berkeliling perusahaan, saya melihat banyak kapal-kapal besar yang sedang direparasi, yang kalau dibandingkan dengan ukuran kapal Ciremai atau Dobonsolo, belum ada apa-apanya. Diantara kapal yang saya lihat sedang direparasi adalah kapal pesiar mewah P&O yang panjangnya lebih dari 300m dan bertingkat sekitar 12 lantai. Lalu ada lagi yang lebih besar, mungkin sekitar 400 m panjangnya yang sedang digarap, yaitu kapal untuk pengeboran dan sekaligus penyulingan minyak yang besarnya hampir tidak dapat dipercaya ada pabrik yang bisa mengapung di atas air samudra.

OK, bravo Pak Tri. Anda layak mendapat bintang bonek ITS Surabaya… hee..heee

JH (23 February 2017)

Post Disclaimer

The information contained in this post is for general information purposes only. The information is provided by Singapore (bagian 1) and while we endeavour to keep the information up to date and correct, we make no representations or warranties of any kind, express or implied, about the completeness, accuracy, reliability, suitability or availability with respect to the website or the information, products, services, or related graphics contained on the post for any purpose.

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *