Saat Menjadi Rektor

San Francisco (bagian 6)

Siapa tidak kenal Stanford University? Rasanya aneh kalau belum pernah tahu, setidaknya pernah mendengar kalau begitu. 

Hal menarik, bukan semata universitas ini dibangun atas kecintaan seorang Ibu kepada anaknya yang meninggal dunia saat masih menempuh studi di Harvard University. Tapi juga karena Stanford University saat ini telah menjelma menjadi universitas berkelas dunia, bahkan berada dalam posisi yang lebih tinggi dari Harvard dalam QS World University Ranking sebagai universitas bergengsi, yaitu pada urutan 2 dan 3 dunia. Masih ingatkah Anda kalau dulu saya pernah memposting di wall FB saya tentang cerita sepasang orangtua sederhana dari desa yang datang menghadap Rektor Harvard University menyampaikan keinginannya membangun gedung untuk mengenang anaknya yang baru saja masuk kuliah di Harvard namun kemudian meninggal dunia karena kecelakaan? Menurut ceritanya saat itu, mereka dipandang sebelah mata oleh pimpinan Harvard karena tidak percaya kalau kedua orangtua sederhana itu akan mampu membiayai sebuah gedung yang relatif mahal. Kecewa dengan sikap pimpinan universitas tersebut, kedua orangtua itu, yaitu Mr & Mrs Leland Stanford lalu memutuskan untuk membangun sendiri universitas baru yang menurut mereka tidak terlalu mahal! Maka berdirilah Stanford University. 

Walaupun cerita versi di atas dibantah pihak manajemen Harvard, namun ada hal yang pasti benar yaitu bahwa Stanford University dibangun sebagai bentuk memori orangtua untuk anaknya yang meninggal itu. Beruntung saya mendapat kesempatan untuk berdiri di sebelah prasasti yang bersejarah itu. Walaupun sudah lebih dari seabad, setidaknya saya masih bisa merasakan hangatnya aura cinta seorang ibu kepada anaknya itu…

Ngomong-ngomong, saya dan rombongan dari Kota Surabaya datang ke kampus ini adalah ingin belajar bagaimana Stanford University berhasil merubah paradigma mahasiswanya untuk menjadi entrepreneur, baik melalui program studinya, kurikulum maupun business startupnya. Sebab peran mereka juga sangat besar dalam membangun Silicon Valley sampai seperti sekarang. Banyak anak muda lulusannya yang menjadi bagian dari generasi perubah di lembah silicon yang masyhur ini. 

Walaupun kunjungan kami sangat singkat, namun atmosfir akademiknya terasa sangat kental. Salah satu yang membuat mereka maju adalah adanya kebebasan bagi mahasiswa untuk meramu kuliah yang ditempuhnya dari beberapa fakultas yang berbeda. Setidaknya ada 3 fakultas berbeda yang terlibat dalam menggodog mahasiswa sehingga dia berhasil menjadi lulusan. Artinya, dalam mendidik mahasiswanya, mereka tidak harus mengambil dari Fakultas, apalagi Jurusan yang sama. Terjadi proses interaksi multidisipliner lintas fakultas pada seorang mahasiswa ketika menempuh pendidikan di Stanford. Misalnya seorang mahasiswa Teknik Sipil boleh memilih mata kuliah IT dan Entrepreneurship dari Fakultas lainnya. Atau seorang mahasiswa Teknik Elektro boleh mengambil pelajaran dari Fakultas Seni dan Desain serta Fakultas Ekonomi. Pendek kata, mereka sudah tidak lagi memberlakukan pendidikan yang bersifat linier secara kaku atau hanya mengambil melulu satu bidang keilmuan. Sharing resources seperti ini yang masih jarang – kalaupun tidak boleh dikatakan tidak ada – di Universitas-universitas di Indonesia. Kita sementara ini masih berkutat pada ego atau disiplin keilmuannya sendiri-sendiri secara rigid. 

Wah, belajar dari pengalaman mereka itu, saya jadi ingin cepat-cepat pulang dan berdiskusi dengan para pimpinan akademik di ITS, mungkin kami perlu merubah paradigma proses pendidikan di ITS yaitu untuk lebih mendidik mahasiswa secara multidisipliner agar para lulusannya nanti lebih siap dalam menghadapi tantangan lapangan yang semakin kompleks, namun tanpa kehilangan identitas disiplin keilmuan utama (majoring academic competency)-nya.

Bagaimana menurut Anda, perlukah dilakukan reformasi pendidikan di Perguruan Tinggi agar lulusannya lebih tangguh, khususnya di ITS?

Wass,

JH (18 February 2017)

NB: Tulisan ini saya buat saat melakukan perjalanan dinas ke USA Februari 2017

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *