San Francisco (bagian 4)
Ketika kami tiba di SF, kami mendapat kehormatan dijamu makan malam oleh Konsul Jenderal Indonesia disana, Bapak Ardi Hermawan di kediaman dinas beliau. Kehadiran Bu Risma juga menarik perhatian banyak warga Indonesia di sana untuk turut hadir dan berdialog. Walaupun siangnya kami sudah keliling ke beberapa tempat, kami tetap antusias untuk bertemu warga Indonesia yang pastinya sudah rindu mendengar cerita langsung dari tanah air, apalagi langsung dari Bu Risma.
Banyak yang datang dalam acara dialog malam itu. Saya sendiri lebih banyak diam menyimak. Sebab saya juga ingin belajar dari pengalaman Bu Risma maupun para diaspora kita. Saya menikmati pemikiran maupun kisah-kisah perjalanan manusia, sebab selalu saja ada pembelajaran di belakangnya. Kalau boleh meminjam istilah Dino Patti Jalal, berusaha menyedot kaweruh dari orang lain, untuk lalu jadi bagian pembetukan wisdom diri.
Belajar, sudah seharusnya berlangsung sepanjang hayat. Bukan berhenti ketika semua gelar akademik telah diraih. Sebab belajar itu tidak kenal status, pendidikan, jabatan ataupun kekayaan. Malang benar orang yang bangga bahkan congkak karena meraih salah satu dari hal di atas. Sebab itu menggambarkan betapa lemah dan kurangnya rasa keyakinan dalam dirinya.
Saat di rumah pak Konjen, yang akrab dan hangat (maklum orang Surabaya mungkin ya…😊), saya juga sempat belajar dari seorang ibu yang jadi juru masak di kediaman beliau, yaitu Bu Sri, begitu orang-orang memanggilnya.
Bu Sri, sangat populer di kalangan warga biasa dan diplomatik Indonesia di SF karena kepiawaiannya memasak, terutama mie godhog Jogja. Bagi mereka yang pernah tinggal di luar negeri, pastilah paham kalau tidak mudah memasak makanan Indonesia dengan citra rasa asli nusantara. Karena keterbatasan bahan baku, terutama bumbu yang khas Indonesia, hampir semua masakan Indonesia yang dibuat di luar negeri emaot musim, rasanya ‘so and so’….☺️ Karena itu, apabila ada orang yang mampu memasak makanan Indonesia dengan enak, pastilah akan menjadi idola dan juga rebutan banyak pihak, untuk dijadikan teman atau kolega…siapa tahu bisa nunut makan kali ya….😀.
Konon, Bu Sri sampai pernah diminta kantor perwakilan Indonesia lainnya di Amerika. Tentu saja pak Konjen mempertahankannya habis, daripada harus mendapat tenaga baru yang belum tentu cocok dan itupun kalau dapat, kalau tidak lebih berabe lagi, terpaksa harus makan makanan Amerika yang terasa hambar tanpa bumbu itu😒Wah, mana tahan… Lebih-lebih lagi, Konsulat Jenderal SF adalah tempat yang sering banyak dikunjungi oleh para tamu, terutama pejabat dari Indonesia. Sehingga kebayang khan kalau juru masaknya kurang handal, padahal begitu banyak acara yang harus diselenggarakan Pak Konjen. Wah….
Bu Sri, adalah seorang janda yang ketika suaminya meninggal dunia, direkrut Pak Konjen. Saat itu, beliau memang sedang mencari juru masak untuk kediaman dinasnya. Lantas salah seorang stafnya merekomendasikan Bu Sri yang kala itu terpaksa harus membuka usaha catering untuk menyambung hidupnya. Rekomendasi dari salah seorang stafnya adalah bahwa Bu Sri orangnya sopan, baik dan pinter masak. Karena itulah lalu ia direkrut.
Nyatanya setelah bekerja, apa yang dikatakan staf beliau benar adanya. Bu Sri bekerja dengan baik, dari perilaku maupun kelezatan masakannya. Tak kurang Bu Risma sendiri pun sampai penasaran dan tak kuasa menolak ajakan Pak Konjen ke kediaman dinas untuk kembali kedua kalinya menikmati masakan Bu Sri, khususnya mie rebus Jogja yang sedap itu.
Pembelajaran dari pribadi Bu Sri buat saya adalah bahwa kesungguhan dalam menjalani profesi, apapun jenis pekerjaannya, sebenarnya merupakan bentuk penciptaan nilai (value creation) diri, yang pada gilirannya akan menentukan seberapa ‘berharganya’ kita di depan orang lain. Kalau sudah begini, apalagi kalau ditunjang oleh sikap atau attitudes yang baik dan konsisten, ini akan menjadi merk (branding) bagi diri kita yang terus melekat, uang pun lantas akan mencari dirinya, bukan sebaliknya! Bravo Bu Sri.
Wass,
JH (16 February 2017)
NB: Tulisan ini saya buat saat melakukan perjalanan dinas ke USA Februari 2017