San Francisco (bagian 1)
Saya menulis ini di pagi subuh buta. Di luar sana, suasana masih gelap, maklum shalat subuh baru pk 05.59 pagi waktu setempat. Dingin menyusup ke dalam kamar hotel tempat saya menginap yang berada di lantai 31. Di data digital, suhu di luar ‘cuma’ 9 C. Disebut cuma, karena memang relatif tidak terlalu dingin untuk suhu di musim dingin…
Samar-samar di luar sana, suara mobil truk pengumpul sampah diselingi lamat-lamat suara sirine mobil ambulan atau mungkin juga sirine mobil polisi lewat menyelingi. Kadang bingung membedakan jenis lengkingannya. Begitulah suasana “heningnya” malam menjelang subuh di San Francisco, California, USA. Sama dengan kota-kota besar dunia yang lainnya yang pernah saya kunjungi.
Sudah 3 jam lebih saya terbangun, dan tidak bisa tidur lagi. Mungkin masih jet-lag. Saya manfaatkan untuk shalat malam lalu melakukan videocall dengan keluarga di rumah. Perbedaan waktu 15 jam, membuat saya bisa ngobrol dengan keluarga di Indonesia walaupun jaraknya separuh bulatan bumi. Selebihnya, dalam keheningan itu, seperti biasanya aku manfaatkan untuk berpikir dan berimajinasi….:) Tentunya hal yang positif, sebab imajinasi adalah awal dari lahirnya karya kreatif ataupun idea-idea baru untuk mengatasi berbagai persoalan keseharian maupun masa yang akan datang…
Tapi mohon maaf, saya tidak ingin menulis soal imajinasi itu, saya ingin menulis hal-hal ringan saja. Sebab dari pemikiran ringan dan sederhana kadang lahir idea untuk memahami persoalan yang kompleks.
Saya berangkat dari Surabaya, Sabtu sekitar pukul 9 pagi. Terbang menggunakan pesawat, singgah di Hongkong lalu melintas Samudera Atlantik, dan tiba di San Francisco, California USA, dengan total waktu perjalanan 20 jam. Sehingga seharusnya, dengan skala Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), saya tiba di SF hari Minggu pk 05.00 pagi ya khan? Nyatanya waktu di SF saat itu adalah Hari Sabtu pk. 15.00! Artinya saya mengalami pengulangan hari Sabtu alias usia saya “mundur” satu hari.
Suatu hal biasa bagi sebagian besar kita yang sering melakukan perjalanan lintas benua. Walaupun begitu jarang kita sadar, bahwa pengulangan hari atau pengurangan usia ini sebenarnya bisa menjelaskan tentang “lompatan waktu” seperti yang kita lihat dalam film Time Tunnel, misalnya. Kita bisa kembali ke masa lalu atau melompat ke masa depan. Hal ini terjadi karena semua benda planet berputar, termasuk bumi kita yang relatif sangat kecil dibandingkan dengan planet-planet lain, apalagi bila dibandingkan dengan gugusan bintang galaksi yang sangat besar. Katakanlah kalau kita bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya, ke depan maupun ke belakang perputaran waktu, maka kita bisa kembali ke masa lalu atau melompat ke masa depan seperti yang sering digambarkan dalam film. Jadi hal itu bukan ilusi, tapi nyata adanya…
Pusing nggak ya bacanya? 🙂 Saya akhiri saja kalau begitu, nanti akan dilanjut cerita tentang San Francisco sendiri saja…Mungkin lebih menarik ya bagi pembaca….
Wass,
JH (12 February 2017)
NB: Tulisan ini saya buat saat melakukan perjalanan dinas ke USA Februari 2017