Pesan dari Ayahmu

Memaknai Kematian

Saat ditinggal seseorang yang kita cintai untuk selamanya, sering kita menangis dan bersedih. Umumnya, kita menangis karena rasa sedih ditinggal orang yang tidak akan pernah kita jumpai lagi dalam hidup kita. Selain itu, juga karena sedih atas berakhir kehidupannya di dunia bagi orang yang kita kasihi itu.

Namun jarang sekali orang yang bersedih atas nasib bagaimana kehidupan orang yang kita kasihi tersebut, pasca kematiannya. Baik di alam kuburnya maupun alam akhiratnya…Padahal itulah yang akan abadi dialaminya. 

Analoginya sama dengan banyak orang yang takut kalau minum racun, tapi tidak seorangpun yang khawatir akan keracunan hatinya. Dalam kasus yang pertama, akibat buruknya adalah kematian secara fisik. Sedangkan dalam kasus kedua, akibatnya tidak hanya menyangkut kehancuran kehidupannya di dunia tapi juga di kehidupan akhiratnya kelak.

Kematian hati seseorang seringnya tidak nampak, sebab memang sangat samar sifatnya.   Hatinya ada, namun terkunci. Seolah dia buta, bisu dan tuli terhadap semua kebenaran yang berasal dariNYA. KalimatNYA seolah menjadi racun sehingga dia akan berusaha melawannya bahkan menistakannya. Bahkan ketika dia mempunyai kekuasaan, dia akan gunakan sekuat tenaga untuk menyingkirkan siapa saja yang berupaya menegakkan kalimatNYA. Semua ini dilakukannya hanya karena keangkuhan dan kebodohannya semata. Tanpa disadarinya, dia telah membuat kerusakan bagi dirinya sendiri, orang-orang lain yang seharusnya dia ayomi, serta juga masa depannya di akhirat yang tidak akan pernah bisa di-her kecuali penyesalan abadi yang terlambat….

Semoga kita tidak termasuk orang yang merugi karena hati kita yang terkunci sehingga mengganggap kita lah penentu kebenaran atas kekuasaan duniawi yang dimiliki. Kekuasaan nisbi yang sebetulnya sangat, sangat kecil dan tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan ciptaanNYA yang sangat agung dan tak terbatas.

Semoga kita bukan termasuk mereka kaum yang dzolim di saat kekuasaan di amanahkan pada diri kita. Karena kita mengerti, bahwa keracunan hati adalah lebih berbahaya daripada keracunan fisik.

Wallahualam….

JH/25012017

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *