Saat Menjadi Rektor

Bangga Dengan TNI (continued)

Masih ingat tulisan saya tentang kebanggaan saya pada TNI saat saya menghadiri Perayaan HUT TNI awal Oktober yll?

Ceritanya berlanjut, saya dikontak salah seorang mantan mahasiswa saya yang menyampaikan keinginan seorang Marinir yang sebelumnya adalah anggota Denjaka (Detasemen Jala Mangkara)  yang ingin bertemu dan berkenalan dengan saya. Tentu saja ini suatu hal yang mengejutkan bagi saya, sebab Denjaka merupakan pasukan khusus anti teror dari TNI AL, yang sangat tangguh dan menjadi salah satu pasukan elit yang paling ditakuti di dunia. Saya sudah menyaksikan sendiri bagaimana mereka turun (atau tepatnya meluncur) dan sekaligus naik kembali dengan cepat menggunakan seutas tali dari sebuah crane yang tinggi, untuk mengilustrasikan kelincahan mereka menyusup ke kapal yang sedang dibajak di tengah laut. 

Mungkin juga kita masih ingat ketangguhan mereka menyelam yang ditunjukkan saat mencari pesawat Air Asia yang tempo hari jatuh tenggelam di perairan Kalimantan padahal saat itu tidak saja deras arusnya tetapi juga sangat keruh airnya, namun toch mereka mampu menemukannya dalam waktu yang sungkat. Sampai anggota penyelam AL Rusia yang saat ikut turut dijadirkan untuk ikut membantu sampai geleng-geleng kepala menyaksikan ‘kenekadan’ tentara kebanggaan kita itu. Bukan apa, sebab selama ini tentara Rusia lah yang dikenal penyelam paling tangguh di dunia, namun pada saat kejadian pencarian tersebut, pasukan mereka tidak diijinkan turun oleh komandannya karena medan yang menurut pertimbangan mereka masih terlalu berbahaya!

Kembali ke laptop… Setelah bolak-balik dirubah waktu pertemuan akibat jadwal masing-masing yang padat, akhirnya tibalah pertemuan yang dinantikan itu. Agak grogi juga sih sebenarnya, bayangan sosok “mengerikan” terus membayangi….he..hee

Rupanya beliau hadir bersama rekannya yang juga sama-sama anggota Marinir, masing-masing berpangkat Letkol. Mohon dimaafkan kalau saya menyebut nama beliau berdua, walaupun tidak lengkap yaitu Pak Saragih dan Pak Wempi. 

Pertemuannya cukup lama, ngobrol gayeng banyak hal tentang pengalaman mereka di lapangan. Terus terang, saya lebih banyak menyimak cerita mereka ibarat anak-anak saya yang dulu sewaktu mereka masih kecil duduk manis sambil matanya berbinar karena terkagum-kagum mendengar dongeng pengalaman bapaknya berpetualang di berbagai peristiwa.

Saya juga terpesona bahwa ternyata Pak Saragih pernah menjadi komandan batalyon I yang melakukan ekspedisi ke puncak Gunung Carstenz di Papua sana bersama Marinirnya, dan berhasil mencapai puncak saat HUT Kemerdekaan RI saat itu. Sungguh hadiah yang sangat indah! 

Lalu Pak Wempi juga bercerita soal pengalamannya menjadi Pasukan Perdamaian PBB di beberapa negara, dan bercerita bagaimana masyarakat umum di daerah konflik sangat akrab dan mencintai pasukan kita yang memang ramah dan pandai merebut hati rakyat disana.

Sungguh beruntung saya mengenal mereka…Semoga suatu saat saya bisa bekerjasama dengan mereka, terutama dalam memperkenalkan generasi muda, khususnya mahasiswa kita, dalam belajar mencintai negara, bangsa dan tanah airnya sepertinya totalitas yang diperlihatkan anggota Marinir TNI AL itu.

Berikut saya sampaikan foto pertemuan sialturahminya, dan saya melampirkan foto dari Buku pengalaman Pak Saragih menaklukkan Carstenz dan sebuah topi pasukan perdamaian PBB dari Pak Wempi sebagai kenang-kenangan. Sementara, saya malah tidak memberikan apa-apa untuk mereka😬🙏🏻.  Maaf ya Pak, jadi lewat tulisan ini saja saya ingin menyampaikan rasa terima kasih saya yang tak terhingga dan sekaligus rasa bangga saya. Selamat Pak, Jalesveva Jayamahe 

(@Diam2 ayah saya juga dulu veteran Tentara ALRI yang saat mempertahankan kemerdekaan ditempatkan di Pangkalan AL di Tegal dan sempat menjadi anak buahnya alm. Ali Sadikin… saya lupa menceritakannya waktu itu ke Bapak2)

Sukses selalu Pak, semoga Allah senantiasa melindungi Bapak2 dan keluarganya semua. AamiinYRA 

JH (17/10/2017)

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *