Saat Menjadi Rektor

Singapore (bagian 2)

Kali ini yang akan saya tulis adalah tentang upacara penganugerahan penghargaan yang diterima mahasiswa ITS dalam lomba yang diinisiasi oleh Sembcorp Marine Singapore bersama mitranya yaitu Shell dan BP. Momen ini terasa istimewa karena perolehan juara bagi Tim ITS adalah yang kedua kalinya dalam dua tahun berturut-turut, sejak kompetisi ini diadakan secara rutin dalam 15 tahun terakhir di Singapura.

Lomba yang bertajuk “Green Wave Environmental Care Project  Competition” ini diperuntukkan bagi siswa berbagai level pendidikan; dari mulai sekolah dasar, sekolah menengah, kolej (pra universitas) dan perguruan tinggi (universitas). Acara bergengsi ini terbuka untuk siswa dari manapun, baik dalam dan luar Singapura. Untuk level universitas, yaitu lomba yang diikuti oleh mahasiswa ITS,  para peserta sebelumnya harus mengajukan project proposal. Apabila peserta lolos tahap ini, mereka diminta menyerahkan karya tulis ilmiah yang berkaitan dengan project yang diusulkan. Ada setidaknya 80 peserta yang lolos tahap ini. Kemudian mereka harus diseleksi lagi dan hanya ada 13 team yang dipanggil untuk mempresentasikan karyanya termasuk mockup projectnya di depan juri di Singapura. Jurinya berjumlah 12 orang dari berbagai negara. Penilaiannya sangat ketat, karena harus memenuhi 4 kriteria yaitu: Orisinalitas, Kontribusi, Dampak dan Kelayakan untuk diimplementasikan.

Tahap akhir ini, ada 2 tim ITS yang berhasil lolos untuk presentasi, dan keduanya terdiri dari gabungan mahasiswa Departemen Teknik Transportasi Laut dan Departemen Teknik Perkapalan. 

Tim pertama, mengajukan proyek ilmiah yang berjudul “Shredder and Processing Waste Seashells” dengan anggota Norma Syahnasa Dian Islami, Ericza Damaranda Sugita dan Olga Putri Sholiha. Dengan dosen pemimbing Hasan Iqbal Nur dan Irwan Tri Yunianto.

Tim kedua, proyek berjudul “Water Cleaner Boat”, dengan anggota Ryan Rachman, Efita Nona Gassani dan Stevanus Arie Nugroho dengan Dosen Pemimbing Hasan Iqbal Nur. 

Alhamdulillah pada akhirnya, setelah melewati beberapa tahapan kompetisi sepanjang tahun 2016 lalu, kedua Tim mendapat penghargaan terhormat. Tim pertama meraih Juara 3 dengan total hadiah S $ 4000 sedangkan Tim kedua mendapatkan Merit Award dengan hadiah sebesar S$1000.

Saat acara penganugerahan kemarin itu, hadir Menteri Pendidikan Singapura yang sangat bersemangat mendukung para pemenang, karena bagi beliau para pahlawan muda lingkungan ini (green warriors) adalah calon-calon ilmuwan masa depan yang suatu saat boleh jadi mampu meraih hadiah Nobel.

Penyerahan hadiah oleh Pak Menteri dilakukan dari mulai level sekolah dasar sampai akhirnya level universitas. Karena itu Tim ITS menjadi tim terakhir yang dipanggil untuk dianugerahi award pemenang. Walaupun statusnya Juara 3, namun tidak ada satupun universitas peserta yang mampu meraih Juara 1 maupun 2. Sehingga artinya, Tim ITS lah tim terbaik yang menjuarai kompetisi ini dari semua universitas peserta yang ikut lomba. Seperti dikatakan di atas, lomba ini sangat ketat dan tinggi persyaratannya. Mendapat nilai paling tinggi dan terbaik, belum lalu otomatis menjadi Juara 1 atau 2. Karena setiap tahapan ada nilai batas minimum yang harus dipenuhi. Tahun lalu pun, ketika Tim ITS jadi pemenang utama, mereka berstatus Juara 2. The second best to none (kedua terbaik dan tidak ada nomor satunya)!

Anyway, yang mengharukan adalah saat akhir puncak acara penganugerahan pemenang, Tim ITS yang tampil ke depan untuk menerima hadiah utama dari Menteri Pendidikan Singapura ternyata adalah dua orang gadis kecil anak bangsa kita yang mengenakan jilbab. Sungguh sangat kontras dengan para juara yang sebelumnya dipanggil maju ke depan, sebab semuanya adalah warga keturunan. Sungguh sebuah penutupan puncak acara yang melegakan bagi bangsa Indonesia. Yes, we can!

JH (24 Feb 2017)

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *