Kazakhstan (bagian 2)
Saat saya mulai menjadi Rektor 2 tahun lalu, ada keinginan untuk membangun kembali kesadaran beragama mahasiswa ITS, agar proses pendidikan mereka tidak sekedar mencari gelar atau kemulyaan duniawi lainnya. Sebab apapun capaiannya, pada akhirnya kita semua akan kembali kehadiratNYA. Cukupkah bekal yang kita bawa?
Apalagi dalam sila pertama ideologi bangsa kita, yaitu Pancasila, Ketuhanan merupakan hal paling utama yang menjadi landasannya. Jadi, menjalankan kewajiban agama masing-masing berarti kita telah mengimplementasikan Pancasila. Karena itu saya berusaha mendorong setiap mahasiswa untuk menjalankan agama yang dianutnya.
Untuk yang beragama Islam, diadakan Gerakan Shalat Subuh Berjamaah yang diilhami oleh gerakan yang dicanangkan Mr. Erdogan di Turki. Terlepas dari sikap politiknya akhir-akhir ini yang saya kurang sreg, namun saya menghormati komitmen beliau sebagai pemimpin yang berkomitmen terhadap agamanya. Gerakan shalat subuh berjamaah ITS terus berjalan untuk seluruh mahasiswa baru yang muslim sampai saat ini, sedangkan untuk mahasiswa non-muslim dilakukan ibadah dengan cara berbeda yang ditetapkan oleh dosen pembinanya masing-masing.
Dalam kunjungan ke Astana ini, siapa nyana kalau saya bertemu dengan tokoh yang saya sebut tadi. Dimulai keinginan shalat dzuhur di mesjid Hazrat Sultan yang megah di tengah kota, oleh guide kami, malah diantar supirnya menuju hotel… Tentu saja kami agak dongkol, lalu meminta supir untuk balik lagi ke mesjid yang kami inginkan. Rupanya waktu yang trebling akibat kekeliruan itu justru membawa berkah. Saat saya akan masuk mesjid, dari dalam mesjid keluarlah figur yang sangat saya kenal di TV….Alhamdulillah, saya bertemu dengan Presiden Turki yang legendaris itu: Erdogan!
Wuih, mimpi apa ya saya kemarin…he..hee. Bahkan Pak Jusuf Kalla dan rombongan yang tiba di mesjid yang sama sebelum saya tiba, malah tidak sempat bertemu beliau. Inilah takdir rupanya…
Saya sempat memotret beliau walau tidak bebas karena petugas keamanan lokal yang sangat ketat mengelilinginya. Lumayan tapi masih keambil sedikit🙂
Yang juga menarik adalah bahwa imam mesjid kemudian meminta Pak JK mengisi buku tamu yang ternyata baru diganti, dan lembar pertama adalah tulisan kesan-pesan dari Erdogan…Jadi Pak JK giliran menulis yang kedua.
Sebetulnya ada kejutan lain yang saya alami saat kunjungan ke Astana, bukan semata bertemu Erdogan, tapi secara tak terduga saya juga bertemu dengan teman SMAN3 Bandung yang sejak lulus tahun 1980 tidak pernah berjumpa karena memilih kampus dan karir yang berbeda. Sungguh surprised, ketika kami menuju jalur khusus imigrasi untuk pemeriksaan paspor di pintu kedatangan bandara Internasional Astana, telah menunggu teman saya itu yang ternyata kini menjadi Duta Besar RI di Kazakhstan sana.
Tentu saja saya senang bertemu dengan teman lama, walaupun dalam hal ini saya tidak sempat sepenuhnya ditemaninya karena beliau harus lebih fokus menemani Pak JK dan beberapa Menteri yang juga hadir. Tidak apa, semua bisa dimaklumi karena memang situasinya harus begitu.
Namun kejadian ini membuat saya semakin yakin, dan itu sudah pernah saya tulis dalam fb saat yang lalu, bahwa itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan kita untuk memberi tahu nasab (asal usul keturunan) seorang anak apabila kita mengadopsinya. Sebab suatu saat InsyaAllah anak itu akan dipertemukan Kimberly dengan saudara atau kerabatnya. Kewajiban ini untuk mencegah jangan sampai saudara sekandung menikah karena tidak tahu bahwa mereka itu sebenarnya adalah kakak-beradik. Walaupun dunia itu luas, tetapi Allah SWT sepertinya sudah mendesain bahwa lingkungan pergaulan kita selalu berada dalam lingkup tertentu yang terbatas.
Coba periksa, bukankah setiap kita bertemu dengan seseorang atau orang lain di manapun, terutama di tempat saat sedang pinangan berlangsung antara dua keluarga besar yang berbeda, kita sering menemukan fakta bahwa ternyata ada hubungan kekerabatan antara kedua belah pihak keluarga yang akan menikah?
Ups, saya sudah semakin keluar alur cerita ya… Kita kembali ke laptop saja.
Saya senang diberi suprise oleh Allah karena dipertemukan kembali dengan teman SMAN3 Bandung dulu. Semoga sukses selalu Mas Rahmat Pramono🙏🏻👍
(Sampai saat ini memang kemana pun saya pergi di belahan bumi ini, saya selalu saja bertemu dengan seseorang yang saya kenal atau pernah kenal, entah sebagai kenalan, teman, saudara, kerabat atau teman dari saudara). Dunia luas tapi juga sempit rupanya…