Saat Menjadi Rektor

Kazakhstan (bagian 3)

Suprise terakhir yang saya ingin tulis adalah ketika “seminar” hari ketiga (begitu Pak JK menyebutnya untuk diskusi beliau dengan para Rektor dan pak Menteri saat sarapan pagi berlangsung di Hotel). Kebetulan hari ketiga itu, saya didaulat sejawat Rektor untuk duduk bersebrangan langsung dengan beliau. Hari-hari sebelumya yang duduk di kursi “kehormatan” itu adalah Rektor UI dan lalu Rektor ITB. 

Diskusinya berlangsung menarik dan gayeng. Seolah Pak JK ingin bersparring partner dengan para rektor atas pemikiran beliau tentang pengembangan sains dan teknologi. Karena kami orang kampus, tentunya mendebat beliau menjadi hal yang biasa karena begitulah kebebasan mimbar akademik seharusnya. Dasar kebenarannya hanya fakta dan data kajian ilmiah yang dikedepankan, bukan posisi atau jabatan.

Ditengah diskusi yang sedang berlangsung, tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan memanggil Kepala Protokol Wapres, lalu beliau menugaskan agar para Rektor diajak bergabung saja dalam pesawat kepresidenan saat kembali ke Jakarta nanti. Kebetulan memang sebagian anggota rombongan beliau, yaitu Ibu Menteri PMK sudah kembali pulang bersama staf-nya karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Wow, jadilah kami mendapat pengalaman yang mungkin tidak pernah terjadi lagi dalam hidup…😊😬

Saya ingin share beberapa foto saat di dalam pesawat Kepresidenan RI, walaupun terbatas, karena sesuai dengan Protap dari Paspampres, ada beberapa bagian dalam pesawat yang memang tidak boleh dibuka ke publik dengan alasan keamanan.

Di bagian terakhir ini, saya akan menulis tentang hasil dari konferensi karena juga berkaitan dengan kepentingan dan peran kita, Indonesia, ke depan. Sejak awal sudah disadari bahwa iptek dan inovasi merupakan kata kunci yang penting bagi seluruh bangsa, khususnya dalam melakukan breakthrough (terobosan) untuk mencapai kesejahteraan ekonomi sekaligus penentu status kehidupan bangsa agar dapat bersaing dengan bangsa lain di dunia. Kata populer yang dikenal saat ini adalah kata ‘disruption innovation’.

Dalam kondisi global sekarang ini, iptek sudah merupakan suatu keharusan. Itu yang menjadi alasan utama mengapa untuk pertama kali konferensi yang khusus membahas ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi ini diadakan dalam rangka memodernkan negara-negara yang tergabung sebagai anggota Organisasi Kerjasama Islam/OKI. Topik utama yang dihadapi adalah yang berkaitan dengan tantangan global, yaitu: pengentasan kemiskinan, penanggulangan penyakit, kekurangan pangan, krisis energi dan air, serta lain lain.

Wapres RI, Bapak Jusuf Kalla menyampaikan pernyataan Pemerintah Indonesia pada Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang pertama kali (The 1st OIC Summit on Science, Technology, Innovation and Modernization of the Muslim World), yang berlangsung di Astana, Kazakhstan, tanggal 10 September 2017.

Beliau mengusulkan pentingnya  kerjasama erat antar Center of Excellence (Pusat Unggulan) bidang iptek dan inovasi yang saling terintegrasi di antara negara OKI untuk berbagi hasil kegiatan riset dan pengembangan bidang iptek tersebut. 

Pentingnya melakukan penguatan kurikulum iptek dan pengembangan budaya iptek (science culture) sejak usia dini dari mulai sekolah dasar juga dijadikan usulan penting dari sikap Indonesia. Termasuk keharusan mengarustamakan (mainstreaming) iptek dan inovasi di dalam kebijakan dan strategi nasional negara-negara OKI.

Hal penting lain yang perlu dicatat adalah ajakan khusus Pak Wapres kepada seluruh negara OKI untuk kembali memajukan peran Islam dalam pengembangan aspek iptek dan inovasi untuk kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan. Hal ini merupakan realiasi nyata dari nilai utama Islam sebagai Rahmatan lil Alamiin.

Tercatat sekitar 20 Kepala Negara/Pemerintah, Raja, dan Wakil Presiden dari total 56 negara OKI yang hadir langsung pada KTT OKI ini, termasuk Presiden Turki selaku Ketua OKI periode 2016-2019, dan Presiden Pakistan selaku Ketua Standing Committee OKI mengenai Iptek/COMSTECH.

Mudah2an dengan dihasilkannya dokumen OIC Science, Technology and Innovation (STI) 2026 yang pada intinya merupakan road map Iptek negara-negara OKI untuk periode 2017-2026; serta Astana Declaration Dokumen yang berisi pernyataan bersama seluruh Kepala Negara/Wakil Kepala Negara OKI mengenai hal-hal utama mengenai pengembangan iptek di negara OKI bagi kepentingan seluruh umat manusia, para akademisi dan ilmuwan Indonesia dapat memanfaatkannya untuk penguatan institusi maupun SDM yang kita punyai dalam kerjasama bagi kemashalatan umat ini. 

Ke depan, akan lebih banyak lagi staf dan mahasiswa asing dari negara-negara Islam yang akan ke ITS dan sebaliknya. Semoga

(JH/14 Sept 2017)

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *