Saat Menjadi Rektor

Kazakhstan (bagian 1)

Saya bersama beberapa Rektor PTN lain diajak untuk mendampingi kunjungan Bapak Wapres Jusuf Kalla ke Astana, ibu kota Kazahstan dalam rangka menghadiri The 1st. IOC Summit on Science and Technology. Sedangkan, IOC atau dalam singkatan bahasa kita adalah OKI, merupakan Organisasi Kerjasama (negara-negara) Islam. Konferensi pertama kerjasama bidang sains dan teknologi negara-negara Islam ini diadakan pada tanggal 10-11 September 2017.

Kami mendarat di Astana, pada hari Jumat tgl. 8 September yang lalu, tentunya dengan perasaan ingin tahu bagaimana suasana Ibukota dari negara pecahan bekas Uni Sovyet (USSR) yang ternyata mayoritas beragama Islam. Negara yang berlokasi di Asia Tengah, bersebelahan dengan China, Rusia dan Mongolia memang menampakkan postur dan roman muka dari ketiga negara itu.

Yang menarik adalah bahwa Astana adalah Ibukota baru yang dibangun tahun 1998 serta sangat futuristik dan seolah ingin melepaskan bayang-bayang sejarah dari penguasaan Uni Sovyet di masa lalu. Mereka berusaha menata diri dengan membangun identitas baru bagi 18 Juta penduduknya di tengah negara daratan yang sangat luas dan kaya dengan migas dan batuan mineral sebagai andalannya.

Saat dihubungi protokoler Wapres Bpk Jusuf Kalla (JK) untuk ikutserta dalam rombongan beliau ke Astana, Kazakhstan menghadiri IOC Summit untuk Bidang Science, Technology and Innovation (STI) hanya sekitar dua minggu sebelum hari H, terus terang saya terkejut namun juga antusias. 

Ada dua hal yang membuat saya semangat, yaitu adalah karena bisa bertemu dan berbicara langsung dengan Pak Wapres yang menurut saya sangat cerdas dan bijak. Keduanya, tentunya senang melihat negara2 Islam yang jumlahnya 50an bersatu dan berkomitmen bekerja sama untuk memgembangkan sains dan teknologi sekaligus melakukan inovasi.

Selama 3 hari penuh, kami diajak sarapan pagi bersama beliau sambil berdiskusi banyak hal, dari hal ringan sampai hal yang berat. Dari masalah kampus, peran saintek sampai masalah kenegaraan. Beliau berpikir sangat taktis, kadang membuat kami tergelak karena ideanya out of the box, sangat brilliant.

Itu sebabnya, tidak heran kalau beliau diantara pimpinan negara-negara asing, terkenal sebagai mediator ulung yang disegani karena mampu menyelesaikan konflik tidak hanya antar etnis, tetapi juga antar negara. Padahal kucinya menurut beliau sederhana, yaitu harus menjaga agar dalam negosiasi kedua belah pihak yang bertikai jangan sampai kehilangan muka. Solusi yang diusulkan dengan pendekatan win-win membuat semua pihak merasa menjadi pemenangnya. Gampang diucapkan memang, tapi prakteknya sulit sesungguhnya. Karena butuh kelihaian dalam diplomasi dan empathy dalam memahami kepentingan masing-masing pihak yang bersebrangan. Luar biasa.

Hal lain yang menurut saya lebih respek pada beliau adalah komitmennya untuk mensupport peran Indonesia dalam sains dan technology dengan negara-negara yang tergabung dalam OKI. Itu sebabnya beliau mengajak 6 Rektor PTN untuk mendampingi beliau, karena ingin kami memahami kondisi yang sedang berkembang di dunia saat ini, khususnya bidang sains dan teknologi yang ternyata negara kita masih cukup tertinggal dibandingkan negara2 mayoritas muslim lainnya. Ini PR kita bersama, bagaimana agar Indonesia berada setidaknya masuk dalam 10 besar negara-negara Islam dunia. Menyedihkan memang saat ini, karena faktanya kita adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. 

Ayo bersama-sama kerja agar kita lebih mampu lagi berperan…

JH (Sept 2017)

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *