San Francisco (bagian 8)
Saya menulis ini setelah semua rombongan kembali dan tiba di Indonesia, tepatnya Jumat malam lalu. Berakhirlah sudah, saya dan teman-teman ITS (dan juga ada Ibu Direktur dari Unair) sejenak merasakan bagaimana ikut bersama keseharian Bu Risma. Walaupun cuma empat hari efektif, tapi sangat padat dan terasa melelahkan puol…😀 Bahkan secara canda (tapi beneran juga lho) kami sepakat bahwa kami bisa tertidur panjang dan lebih lama saat berada di pesawat daripada ketika kami berada di SF yang relatif, hanya tidur berkisar 3-4 jam sehari, dengan agenda harian yang sangat padat.
Perjalanan lintas benua dari SF ke Hongkong memakan waktu 11 jam dan entah berapa lama kami tertidur pulas di pesawat kemarin itu😀. Yang jelas, begitu pesawat take off, dan tidak berapa lama kami mendapat makan malam, kami lantas tidak ingat apa-apa setelah itu! Blas bablas, tanpa harus khawatir atau sungkan kalau akan bangun terlambat di pagi buta. Sebab biasanya, Bu Risma sudah standby menunggu kami anggota rombongan di lobby hotel untuk lalu bersiap-siap jalan kembali. Hadeuh.
Saya jadi mengerti, mengapa setiap diberi apresiasi oleh pembawa acara atas penghargaan-penghargaan yang pernah diterima beliau. Oh ya, tahukah Anda bahwa Bu Risma pernah dinobatkan sebagai The 50 World Greatest Leader tahun 2015 oleh Majalah Fortune, bahkan urutannya satu tingkat di atas Mark Zuckenberg Bossnya FB! Atau juga sebelumnya tahun 2014 pernah terpilih menjadi 3 dari Walikota Terbaik di dunia bersama walikota dari Calgary, Canada dan Ghent, Belgia (Mau komen dulu ah: Tentunya saya ikut bangga karena saya pernah tinggal di ketiga kota tersebut. Calgary saat mengikuti pertukaran pemuda Indonesia-Canada CWY 1982-83, dan Ghent saat mengikuti Program Master 1989-91, dan tentunya Surabaya sekarang ini! Great 👍😊). Juga segudang predikat penghargaan lain, termasuk banyak untuk kota Surabaya sendiri. Beliau selalu merendah dengan mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja semua staf dan pegawai Kota Surabaya!
Memang, menurut saya, ungkapan itu genuine adanya. Sebab tanpa diikuti oleh staf dan pegawai kota yang juga luar biasa, gagasan sehebat apapun tidak pernah bisa akan terwujud. Terlepas dari pendekatan intens yang dilakukan beliau kepada staf di bawahnya (bayangkan beliau tetap memonitor semua pekerjaan yang ada di Surabaya di sela kesibukan kegiatan di SF nyaris 24 jam!), semua ini hanya bisa terjadi karena beliau ditunjang oleh staf pemkot yang juga mau dan mampu bekerja ‘without reserve’ irama kerja Walikotanya.
***
Sabtu paginya, walaupun masih lelah dan juga jetlag, saya terbang lagi ke Bandung memonitor persiapan SNMPTN berhubung status saya sebagai Sekertaris Umum Panitia Pusat. Kami rapat dari siang sampai malam. Sorenya, saya mendapat WA dari staf Bu Risma kalau beliau ingin rapat hari Minggu pagi (!) membahas tindaklanjut kunjungan ke SF… ya ampun. Saya yang sedianya mau pulang agak siang, ingin sedikit memanfaatkan waktu untuk beristirahat di hotel leyeh-leyeh memulihkan energi, terpaksa harus segera merubah jadwal kepulangan menjadi jam 7 pagi. Ya positive thinking saja, sebab memang kesempatan untuk bertemu dengan kesibukan masing-masing yang sama-sama padat tentunya sangat jarang. Terbanglah saya kembali ke Surabaya (ternyata saya kemudian diberitahu kalau Bu Risma juga baru kembali dari Jakarta).
***
Kami berkumpul di rumah dinas Bu Wali pagi itu, eks rombongan SF serta juga jajaran Pemkot bidang terkait dan perwakilan dari Google yang akan kembali ke USA esok harinya (ternyata ia adalah warga yang berasal dari Surabaya juga!). Percaya atau tidak, kalau para engineernya Google, FB, Intel dan Instagram isinya kebanyakan wajah-wajah dari Asia😀.
Saya tidak mau cerita hal teknisnya, tapi ada hal yang membuat saya terkesan ketika saya bertanya kepada Bu Risma apa motivasinya sehingga beliau begitu semangat ingin mengambil ilmu para pelaku ekonomi digital level dunia kepada para anak muda Surabaya. Jawaban Bu Risma, “Saya ingin mengarahkan agar generasi muda Surabaya yang sudah melek internet ini belajar menghasilkan hal yang positif dari IT yang digunakan dalam keseharian mereka, jadi tidak hanya sekedar untuk kesenangan semata. Saya ingin mereka merubah mindset-mereka menjadi lebih berorientasi pada bisnis. Saya ingin mengajari mereka untuk hidup menyongsong masa depannya, bukan hanya belajar pelajaran di sekolah saja. Saya yakin kalau mereka belajar makna hidup yang sebenarnya, mereka akan menjadi manusia yang tidak akan tega korupsi atau memperdaya manusia lainnya kelak”.
Wah…siaplah ITS ikut bantu niat mulia ini. Saya yakin ini juga yang menjadi penyebab mengapa para penggiat IT di Silicon Valley berkomentar bahwa justru merekalah yang ingin belajar dari Surabaya pada akhirnya, walaupun di awal kedatangan kami selalu disampaikan bahwa niat kami adalah untuk belajar dari keberhasilan mereka.
Banyak “tacit knowledge” atau ilmu pengetahuan yang melekat dan tidak tertulis pada seorang Risma dan itu telah diimplementasikan dalam mengelola Kota Surabaya. Apa yang menurut kita biasa, ternyata tidak biasa dalam pandangan mereka. Uff…kalau orang asing saja bisa melihat adanya ilmu pengetahuan yang tersembunyi dari beliau, mengapa kita sendiri yang ada di Surabaya tidak mampu ‘melihat’nya ya?…
Diskusi Minggu pagi itu berakhir dan kami para akademisi pada akhirnya menyimpulkan bahwa harus ada orang yang menuliskan apa-apa yang menjadi kebijakan Bu Risma dari sisi ilmu pengetahuan menjadi sebuah buku, agar menjadi referensi tertulis bagi Surabaya dan juga bisa jadi bahan replikasi di kota-kota lainnya. Jangan sampai ilmu pengetahuan itu habis tertelan perjalanan waktu pada akhirnya. Atau mungkin kedahuluan orang-orang Amerika atau Sanjiv yang petinggi dari Intel California yang begitu antusias ingin menyampaikan konsep Bu Risma dalam menangani anak-anak dan lansia terlantat ke Presiden India, negara tempat dia berasal. Tinggallah kita kembali menjadi negara tertinggal karena harus memulai membangun kota dari awal lagi. Wah, jangan sampe 🙁😩
Wass,
JH (21 February 2017)
NB: Tulisan ini saya buat saat melakukan perjalanan dinas ke USA Februari 2017