Saat Menjadi Rektor

San Francisco (bagian 5)

Dalam kunjungan ke SF, kami juga menyempatkan diri melihat sejarah perkembangan komputer di Musium Komputer di sana. Mungkin itu musium komputer terlengkap di dunia, karena semua komputer yang pernah dibuat di dunia dari sejak pertama kali dikembangkan di tahun 1945an saat terjadi Perang Dunia sampai saat ini, semuanya ada. Menarik sekali  jika kemudian kita tahu bahwa ternyata komputer diciptakan awalnya untuk tujuan perang, yaitu menghitung trajektori atau lintasan rudal yang diluncurkan agar tepat sasaran. Berapa sudut tembak dan kecepatan yang harus di set saat rudal akan diluncurkan biasanya memerlukan waktu cukup lama untuk menghitungnya. Adanya peralatan komputer sederhana mempercepat proses perhitungannya sehingga rudal dapat secara akurat diluncurkan mengenai sasaran yang ditarget. Sukses dengan sistem terobosan ini, maka beberapa ilmuwan mencoba memgembangkannya ke dunia bisnis dan industri. Tentunya akan terjadi proses bisnis yang lebih cepat apabila dibantu oleh mesin penghitung yang mampu mengolah data dengan lebih banyak dan cepat. 

Innovasi sistem komputer lalu terus berkembang seiring kebutuhan yang terus tumbuh. Orang Amerika bilang, necessity is the mother of inventory. Kebutuhan adalah ibu dari penemuan. Maka sejak itu, lahirlah temuan-temuan baru yang kalau melihat bentuknya saat ini nampak sangat aneh dan menggelikan. Sebagai contoh, untuk sampai kepada teknologi televisi seperti yang kita lihat sekarang, mereka harus memulainya dengan membuat bulatan gelas seperti bola lampu yang di salah satu bagiannya dicat metal mengkilat agar mampu merefleksikan gambar yang akan ditampilkan. Proses permantulannya memerlukan panjang alat kurang lebih 80cm. Anehkan?

Namun sesuatu yang nampak ganjil itu (bahkan kadang mengundang ejekan) justru siapa sangka akan menjadi sesuatu yang luar biasa kemudian, yaitu menjadi TV layar datar dengan kualitas gambar yang sangat tajam dan detail seperti sekarang.

Demikian juga dengan komputer, perkembangannya sangat bertahap walaupun cepat. Sistem CPU (central processing unit) yang tadinya sangat ‘bodoh’ jika dilihat di jaman sekarang, karena secara fisik dibentuk oleh lempengan-lempengan pelat hitam besar yang disusun berlapis untuk merekam data sehingga memerlukan fisik dan ruang yang besar. Bahkan ketika kemudian disempurnakan menjadi komputer yang dikenal canggih saat itu sebagai Mainframe pun, untuk mengolah data sebesar 100KBytes saja perlu ruangan satu gedung rektorat sendiri.. ha..ha..haa. 

Bandingkan coba sekarang, gadget yang Anda pakai saja sudah sedemikian besar kapasitasnya sehingga bisa menelan data apa saja sak dunia….😀

Artinya adalah bahwa untuk menuju sukses, kita tidak perlu malu dengan idea yang nyeleneh, atau dengan hasil keluaran yang mengundang gelak tawa orang. Kalau kita yakin, semua itu hanyalah awal dari proses terciptanya karya-karya besar di masa yang akan datang. Yakinkanlah itu. Hanya orang-orang visioner, ulet dan konsistenlah yang akan mampu mewujudkan ‘ketidakmungkinan’ itu. Tiada sebuah kesuksesan pun yang bersifat instan. Semua butuh proses, keuletan dan keyakinan…

***

Ada satu hal lagi. Hampir semua peralatan canggih saat ini memerlukan sistem komputer di dalamnya. Mungkin Anda juga tidak sadar kalau mobil modern yang Anda pakai saat ini, didalamnya ternyata menggunakan tidak kurang dari 300 sistem komputer! Artinya tiada peralatan elektronik, otomotif maupun lainnya yang tanpa sistem komputer didalamnya saat ini.

Amerika sangat bangga bahwa hampir semua produk elektronik dan komputer berawal dari kepiawaian bangsanya. Mereka selalu menjadi pelopor dalam pengembangan teknologi ini, sebut saja radio, televisi, komputer dan produk2 elektronik lainnya. Namun secara perlahan tapi pasti, mereka mulai menyadari kalau kebanggaan sebagai sebagai pelopor saja tidak cukup, mereka harus berusaha mempertahankannya. Fakta membuktikan bahwa diam-diam, bangsa lain memanfaatkan hasil temuan mereka, mengembangkannya lagi dan kemudian justru merekalah yang memguasai pasar pada akhirnya. Produk-produk audio visual dan komputer yang menguasai pasaran saat ini bukanlah buatan Amerika lagi. Bahkan di Musium Komputer di California itupun, saya lirik, layar display elektronik digital yang digunakan adalah produk Korea…😋

Karena itulah, pemandu kami yang juga salah satu orang penting di Google mengatakan, kalau mereka harus terus berinovasi, sebab kalau tidak, mereka akan menjadi bangsa yang tertinggal walaupun dulu merekalah yang merintis teknologinya.

Kata itulah yang terus mengiang di telinga saya ketika kembali dari musium tersebut: Inovasi… inovasi… inovasi.

Wass,

jH (17 February 2017)

NB: Tulisan ini saya buat saat melakukan perjalanan dinas ke USA Februari 2017

Adalah Profesor pada Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya dan pernah menjabat sebagai Rektor ITS 2015-2019. Latar belakang pendidikannya sebagai PhD dalam bidang Teknik Lingkungan dari University of Newcastle, Inggris (1994-1997), Master of Science in Environmental Sanitation di Universiteijt Gent, Belgia (1989-1991) dan Sarjana Teknik Lingkungan ITB (1986).  Sejak tahun 2003 ia mendapat sertifikat sebagai fasilitator Urban Regional Development Management and Team Leadership (URDML) dari Banff Executive Canada. Penerima Penghargaan Category “Angka Nitisastro dari ITS (2024) dan Ganesha Widya Jasa Adiutama dari ITB (2019)” serta sekaligus termasuk “72 Tokoh Berpengaruh 2017” versi Majalah Men’s Obsession ini, juga adalah LEAD (Leadership for Environment and Development) International Fellow sejak tahun 2001 serta TCRP (The Climate Change Reality Project) Leader Indonesia sejak tahun 2009. Mempunyai minat dalam menulis hal-hal keseharian sebagai bagian dari refreshing and healing….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *