San Francisco (bagian 3)
Ada pertanyaan teman yang belum terungkap dalam tulisan saya sebelumnya. Untuk apa saya ke San Francisco?
Singkatnya, perjalanan ke San Francisco ini merupakan bagian dari misi besar Bu Risma, yang ingin mewujudkan ekonomi digital kota Surabaya, dengan memberdayakan anak-anak muda melakukan start-up business yang ditunjang oleh sistem IT berbasis internet. Terobosan inovatif ini dilakukan setelah beliau sukses memberdayakan penduduk kota Surabay, terutama ibu-ibu kampung, dengan pembangunan ekonomi melalui program kampung tematik. Dan terbukti upayanya ini telah mendapat banyak penghargaan dalam dan luar negeri.
Untuk misinya kali ini, tidak tangung-tanggung, beliau langsung memimpin sendiri delegasi kota Surabaya mengunjungi beberapa obyek penting dan top kelas dunia yang dapat memberi inspirasi untuk berinovasi lebih lanjut bagi pembangunan kota. Siapa tidak pernah dengar Silicon Valley, UC Berkeley, Stanford University, Google, Facebook, dan Intel. Mereka dengan senang hati menerima rombongan Bu Risma, karena nama beliau ternyata mereka kenal melalui dunia maya yang menjadi perangkat utama bisnis mereka. Banyaknya penghargaan internasional yang diperoleh Bu Risma membuat mereka penasaran untuk bertemu dan berdislusi secara langsung dengan beliau.
Beliau mengajak kami, dari perguruan tinggi untuk mendampinginya sekaligus menjadi mitra kerjasama di saat nanti kami kembali ke Indonesia. Dari kunjungan sebelumnya, Bu Risma belajar bahwa Silicon Valley ternyata besar karena peran para akademisi sebagai peneliti yang melakukan terobosan teknologi informasi secara inovatif. Kerjasama pemerintah, akademisi dan bisnis merupakan keharusan dan ini benar-benar disadari beliau.
Karena kesibukan tugas kami sehari-hari di Surabaya, maka kunjungan ini – yang memerlukan perjalanan lintas benua dan waktu tempuh 20 jam – dilaksanakan hanya dalam waktu 3 hari. Bisa dibayangkan, aktivitas kunjungan ke setiap obyek menjadi sangat padat. Dalam satu hari, kami memulai kegiatan dari mulai pk. 07.30 sd. 23.00. Melelahkan memang, namun bagi Bu Risma, yang biasa tidur sekitar 2-3 jam sehari, aktivitas seperti ini masih tergolong biasa-biasa saja. Padahal kami yang mengikuti, terpontal-pontal sebetulnya.
Belajar dari para pelaku digital ekonomi dunia, baik kalangan bisnis maupun akademik di Amerika, benar-benar membuka mata kami bahwa American dream is not just a dream. Impian Amerika bukan sekedar impian, mereka juga berusaha mengejarnya menjadi kenyataan walaupun dengan imajinasi yang kadang tak terjangkau. Mereka tidak bicara dalam dimensi air, tanah dan udara., tapi mereka kuga bicara soal bisnis luar angkasa!
Pembelajarannya bagi kita adalah, memang kita harua berani bermimpi untuk membuat perubahan, namun itu harus dibarengi dengan upaya dan kerja keras untuk meraihnya disertai keyakinan yang besar dan fokus. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia. This is America, man!
Wass,
JH (16 February 2017)
NB: Tulisan ini saya buat saat melakukan perjalanan dinas ke USA Februari 2017