Sikap Rektor Dalam Kehidupan Beragama di Kampus
AsslmWW
Ibu/Bapak/ Sdr Muslimin dan Muslimin yang dimuliakan Allah SWT,
Bismillahirrahmanirrohiim,
Dinamika kegiatan agama di kampus ITS sering mendapat sorotan, khususnya kegiatan agama Islam karena beberapa kegiatan kadang dianggap menumbuhkan faham tertentu yang kurang berkenan bagi golongan Islam lainnya.
ITS, yang notabene adalah perguruan tinggi milik negara dan rakyat Indonesia, berusaha menfasilitasi dan membangun suasana kondusif dalam kampus bagi para mahasiswanya, yang tujuannya adalah mendidik calon-calon intelektual bangsa Indonesia, menjadi generasi yang unggul. Unggul dalam pemikiran dan juga unggul dalam bersikap. Pendek kata, berkarakter.
Dalam bayangan saya selalu Rektor, kampus ITS menjadi tempat dialog dalam hal keyakinan beragama dengan penuh toleransi – saling menghormati atas keberagaman ini. Khususnya bagi mahasiswa Muslim, kegiatan keagamaan atau kegiatan beragama, diarahkan dapat memumbuhkan rasa saling menghargai satu sama lain. Perbedaan pemahaman dalam Islam tidak menyebabkan mereka saling menyalahkan satu sama lain apalagi saling bermusuhan yang akan melemahkan Islam itu sendiri. Saya memimpikan tumbuhnya rasa persaudaraan yang saling menyayangi, saling menjaga ukhuwah islamiyah dengan keyakinan bahwa sesama Muslim adalah memang bersaudara. Begitu yang diajarkan Baginda Rosulullah SAW.
Itu sebabnya kami di ITS, memfasilitasi inisiatif undangan dari civitas academica buat siapapun yang dianggap pantas untuk didengar pemikirannya, tentunya dengan beberapa persyaratan yang telah ditentukan dan menjadi pegangan Takmir Mesjid Manarul Ilmi, yaitu: 1) yang bersangkutan adalah penceramah yang tidak masuk dalam daftar yang dilarang polisi/pemerintah, 2) bukan berasal dari organisasi yang terlarang oleh pemerintah 3) dalam ceramahnya tidak menghujat atau mengkafirkan kaum atau golongan lain, 4) tidak membahas politik dalam pengertian tidak menggunakan atau menyalahkan pimpinan Negara maupun pemerintah Indonesia. Perlu dicatat juga, Takmir Manarulpun sudah mempunyai daftar organisasi atau perorangan yang terbukti selama melakukan ceramahnya di ITS melanggar poin di atas sehingga diputuskan tidak diundang lagi.
Sejauh ini, setiap penceramah yang diundang selalu didampingi Takmir maupun Pimpinan ITS secara langsung sekaligus memonitor. Selama itu pula, kami tidak melihat atau mendengar bahwa mereka, termasuk Ust. (maaf saya delete, JH), melanggar apa yang digariskan dalam ketentuan yg berlaku di Manarul Ilmi. Beliau dalam pengalaman kami selama 2x berceramah di ITS, masih lurus menyampaikan hal-hal yang sesuai dengan ajaran Quran dan Hadist.
Kami sangat hati-hati dalam mengkaji dan memperbolehkan setiap kegiatan yang diusulkan oleh civitas academica, khususnya yang Muslim. Kami menyadari bahwa pasti ada perbedaan pendapat dalam hal pemberian ijin kepada siapapun.
Kalaupun ada yang tidak berkenan atas personal yang diundang, kami selalu mendengar dan mengikuti sarannya sekiranya memang itu benar apalagi bila memang pemerintah juga secara formal melarangnya.
Selama tidak memenuhi syarat itu, kami akan tetap memberi ijin dan biarlah para pendengarnya (baik itu mahasiswa, dosen, tendik maupun publik) yang hadir langsung, yang akan menilai apakah yang bersangkutan memang tidak layak lagi diundang karena menyebarkan paham sesat atau melakukan penghasutan maupun tindakan intoleransi lainnya.
Kami ingin mahasiswa kami tumbuh dengan tanpa prasangka, apalagi fitnah yang saat ini marak beredar, sehingga mematikan karakter seseorang dan sekaligus juga memecahbelah persatuan umat Islam di Indonesia.
Biarlah mereka, mahasiswa kita tumbuh dengan pemahaman agama yang kokoh diatasi segala perbedaan yang ada, namun dengan tingkat intelektualitas yang tinggi, penuh rasa saling menghargai dan menyayangi saudaranya seiman. Jika kampus saja yang merupakan gudang para tokoh dan calon intelektual (orang pintar dan terdidik) tidak mampu membangun umat Madani diatas keberagaman, bagaimana lagi kita akan mengharapkan jutaan bangsa kita diluar Kampus sana menjaga persatuan atas keberagaman bangsa Indonesia?
Itulah juga saya kira semangat yang selalu ditanamkan Bapak Keberagaman Bangsa Indonesia, Gus Dur. Kita seharusnya menjadi bangsa tangguh, yang ditulangpunggungi oleh kaum Muslim Indonesia yang slain menjadi mayoritas, juga cerdas dan terpelajar. InsyaAllah dengan dukungan dan pemahaman dari Ibu/ Bapak/ Sdr semua civitas academica di ITS kita bisa…. Semoga ITS menjadi pelopor kampus di Indonesia yang berhasil menyatukan umat beragama yang beragam secara baik dan bermartabat. Sebab kampus kita, ITS merupakan miniatur bangsa Indonesia yang terpelajar. Sudah seharusnya menjadi teladan yang baik. Wallahualam.
JH/12022017